Langsung ke konten utama

Revisi Skripsi Online, Mungkinkah?

Oleh: Ghozy Syaddad Al Faruq

Bagi mahasiswa program sarjana tingkat akhir, menyelesaikan skripsi adalah hal yang tidak dapat ditolak. Skripsi merupakan syarat seorang mahasiswa dalam menyelesaikan studinya di universitas.

Kegiatan penulisan skripsi dilakukan melalui bimbingan dosen yang telah ditentukan. Hal ini mengharuskan mahasiswa memfokuskan waktunya berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Pembimbing biasanya terdiri dari dua orang dosen. 

Dalam proses bimbingan ini, diperlukan kesabaran mahasiswa untuk bisa bertemu dengan pembimbing mereka. Kenapa? Karena dosen memiliki waktu yang terbatas. Para dosen harus membagi waktunya antara tugas memberi perkuliahan di kelas yang jumlah jam dan waktunya bervariasi serta tanggung jawab membimbing tugas akhir mahasiswa, yaitu skripsi.

Terbayang kan bagaimana sibuknya para dosen kita?
Banyak curhatan mahasiswa saat berlangsung proses bimbingan skripsi. Mulai dari antre saat bimbingan, bentrok waktu dengan dosen pembimbing lainnya, waktu yang amat singkat setelah antre berjam-jam, dan lain sebagainya.

Di saat kondisi pandemik COVID-19 yang cukup mengerikan, kegiatan konsultasi skripsi dengan dosen menjadi terbatas, bahkan ikut terhambat karena terhalang oleh kebijakan Social Distancing yang diinstrukrikan oleh pemerintah. Akhirnya, universitas menyelenggarakan perkuliahan di rumah atau Home Learning.

Lalu bagaimana dengan bimbingan skripsi dan revisi, apakah bisa dilakukan secara online?

Menurut Saya, revisi skripsi online mungkin untuk dilakukan. Ada beberapa fasilitas interaksi online langsung menggunakan aplikasi. Seperti : 
1. Google Classroom.
2. Zoom Meeting.
3. Whatsapp dengan Voice Note dan Video Call.

Dengan bimbingan online menggunakan aplikasi tersebut, komunikasi dua arah langsung tetap bisa dilakukan.

Masalah yang mungkin muncul hanyalah persoalan waktu, yakni bagaimana dosen dan mahasiswa dapat menyepakati waktu bersama. Misalnya, biasanya percakapan online seperti itu lebih nyaman dilakukan dirumah pada malam hari. Selain lebih santai, di rumah sebagian besar mahasiswa maupun dosen terpasang WiFi sehingga lebih leluasa dan tidak ada masalah soal data dan kuota.

Jadi, sudah saatnya para dosen memahami hal ini sebagai salah satu bentuk perkembangan zaman. Selain lebih efisien, bimbingan online menjadi opsi untuk mengurangi biaya dan pemborosan kertas yang dibuang karena coretan saat bimbingan. Selain itu, teman-teman mahasiswa juga harus berusaha membangun komunikasi yang baik dengan dosen pembimbingnya untuk mengatur waktu bimbingan.

Semoga para dosen dapat meluangkan waktu istirahat dan waktu bersama keluarga untuk membantu mahasiswa menyelesaikan langkah terakhirnya, yaitu skripsi.

Silahkan dicoba ya, Folks! Semoga sukses!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...