Langsung ke konten utama

Kata Katuara Soal Semua Wajib Online


Oleh : Amaliah Fitriani, Fariz Amroe Syam, Nurul Syifa Putri

Digaungkannya revolusi industri 4.0 sejak tahun 2018 lalu, hingga saat ini Indonesia terus mengembangkan inovasi-inovasinya di berbagai sektor dengan mengedepankan teknologi atau digitalisasi. Hal ini tidak sedikit menimbulkan dampak bagi berbagai lapisan masyarakat yang ada di Indonesia. 

Sebagian masyarakat merasakan betul banyak kemudahan dengan adanya kemajuan teknologi ini, namun tak sedikit juga yang masih merasakan kesulitan akibat hal ini. Orang-orang berbondong-bondong mengikuti tren zaman sekarang bertransaksi cashless, atau melakukan hal tanpa tatap muka. Banyak hal tradisional yang mulai tergerus karena adanya hal ini.

Nasib Pedagang Keliling : Kalah Saing dengan Pesan Antar Online

Salah satu yang terdampak akibat kemajuan teknologi adalah pedagang keliling. Mungkin kita saat ini lebih senang untuk order makanan via aplikasi dibanding menguatkan niat untuk pergi keluar rumah sekedar membeli makanan. Namun bagaimana nasib Pedagang Keliling saat ini? 

Dilansir dari linetoday (25/03), beberapa waktu lalu akun @.permataintan00 membagikan cuitan di Twitter berisikan tentang curhatan para pedagang keliling dengan mengunggah kembali beberapa tangkapan layar insta story dari akun @.novintt. Beberapa penjual aneka makanan itu mengaku kehilangan omset sebesar 70 persen karena pembeli yang menurun dan lebih memilih memesan makanan via aplikasi. 

Ia menceritakan permasalahan masing-masing pedagang yang ditemui. Ada penjual ketoprak yang omsetnya hanya 8 ribu rupiah selama 2 hari berjualan. Ada juga penjual nasi goreng yang hanya makan timun yang sudah berair dengan nasi putih yang sudah mengeras, padahal ia punya nasi yang baru namun disimpan sambil berharap ada pembeli, ternyata hanya mendapat 6 ribu rupiah dari tukang sate yang membeli nasi gorengnya setengah porsi.

Lalu tukang bakso berusia 80 tahun yang berjualan bakso dengan cara dipikul dan setiap harinya membawa puluhan kilo beban, berjualan mulai dari jam 4 pagi, namun hingga malam tak kunjung mendapat pembeli.

Beberapa dari mereka pun masih memiliki keluarga yang menunggu dirumah, juga ada pula yang hidup seorang diri, karena keluarga lainnya sudah berpulang. 

Mungkin untuk masyarakat mengengah ke atas dan masih berumur produktif tidak keberatan sama sekali dengan apa yang serba digital saat ini dan mampu mengikuti perkembangan yang terjadi, namun belum tentu sama dengan nasib masyarakat menengah kebawah dan sudah tidak muda lagi alias sudah tidak memasuki umur produktif lagi.

Dampak dari kemajuan teknologi juga mengalihkan masyarakat dari transaksi dengan uang cash menjadi non-cash. Dari beberapa hal yang sebelumnya menggunakan kertas menjadi paperless. 

Upaya Perum Peruri Agar Tak Terdisrupsi di Era Digital

Dilansir dari CNBC Indonesia (08/01), Perum Peruri melekat dengan bisnis layanan jasa kertas khususnya cetak uang dan dokumen berharga. Namun, perkembangan digital membuat mereka terus berbenah agar tak terdisrupsi perkembangan digital.

Direktur Pengembangan Usaha Perum Peruri Fajar Rizki mengakui digitalisasi telah memengaruhi pendapatan perusahaan. Utamanya dalam jasa printing kertas sebagai salah satu sektor yang digarap Peruri.

Beberapa service yang digarap Peruri misal dari pencetakan tiket Garuda maupun maskapai-maskapai domestik lain hilang karena pemesanannya berganti dari kertas menjadi digital. Ada juga proyek printing dokumen dari ujian seleksi masuk Perguruan Tinggi juga digarap Perum Peruri. Salah satu yang dikerjakan adalah seleksi masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), namun dua tahun terakhir ujian mulai beralih menjadi ujian berbasis komputer bukan paper lagi. 

Namun, Fajar menyebut kini sudah mulai bisa mengatasi tren tersebut dengan menyasar sektor digital security serta sektor digital lainnya. Apalagi, meskipun proyek rutin, namun angka dari digitalisasi ini tidak terlalu besar.

Peruri memperkirakan adanya penurunan pendapatan pada 2020. "Tahun ini memang untuk target 2020 untuk pendapatan kita di RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) Rp 3,7 triliun di 2020," kata Fajar Rizki.

Namun, Fajar menolak bahwa penurunan tersebut dikarenakan kebiasaan masyarakat, utamanya di kota besar yang lebih banyak beralih ke cashless. Penurunan itu sudah diprediksi karena penurunan pesanan dari Bank Indonesia (BI) yang turun dari tahun sebelumnya. BI memang memberlakukan pesanan multi years atau dua tahun sekali. Pada 2020 tahun ke satu. 2021 tahun kedua. Pendapatan tahun pertama turun. Tahun kedua naik, multi years.

Lalu kita pun bertanya-tanya bagaimana Indonesia kedepan dengan sistem digitalisasi yang semakin berkembang terus-menerus, terutama peredaran uang yang sekarang beralih ke cashless, Sudah siapkah kita?

Indonesia di Masa Depan : Tanpa Uang Tunai?

Melihat perkembangan arah kebijakan pemerintah kedepannya, maka bukan hal yang mustahil bahwa 10-20 tahun kedepan, uang tunai berbentuk lembaran kertas atau uang sudah jauh berkurang drastis eksistensinya, bahkan mungkin tidak eksis sama sekali.

Ketika semua masyarakat telah terbiasa menggunakan "dompet online" maka hal itu tidak saja merubah satu budaya transaksi jual-beli, tapi juga akan merubah banyak sekali perilaku, dan kebijakan ekonomi pemerintah serta pelaku bisnis. Berikut adalah sedikit gambaran tentang Indonesia di masa depan jika uang tunai benar-benar tak lagi eksis :

1. Banyak Pekerjaan Akan Hilang

Gambaran ini sudah bisa terlihat di masa sekarang, yang paling jelas adalah hilangnya petugas pintu tol. Sejak diberlakukannya elektronifikasi pintu tol, maka fungsi petugas pintu tol yang sebelumnya melakukan transaksi pembayaran dan membuka portal tol kini telah hilang dan digantikan dengan system e-money. Saat ini, beberapa tempat parkir juga sudah melakukan hal yang sama, pembayaran parkir kendaraan bisa dengan e-money atau aplikasi. 

Jika sudah semakin langkanya uang tunai, maka Gerai ATM semakin akan tidak dibutuhkan dan tentu saja pihak bank akan menutupnya karena tidak menguntungkan. Kisahnya mirip dengan telepon umum di masa kecil bagi kita yang mengalaminya.

2. Gerai ATM Akan Bernasib Seperti Telepon Umum

Peran teller bank kelak tidak akan terlalu dibutuhkan, karena sudah banyak gerai ATM yang menyediakan fasilitas ATM setor tunai. Orang bisa kapan saja melakukan transfer atau mendebet-kreditkan uangnya tanpa harus ke bank. Kecuali untuk keperluan dengan customer service. 

Namun fenomena menjamurnya ATM di masa depan juga akan berkurang, akibat saat ini perkembangan smartphone telah melahirkan mobile banking. Bertansaksi perbankan hanya semudah membalikkan telapak tangan. 

Jika sudah semakin langkanya uang tunai, maka Gerai ATM semakin tidak akan dibutuhkan dan tentu saja pihak bank akan menutupnya karena tidak menguntungkan. Kisahnya mirip dengan telepon umum di masa kecil bagi kita yang mengalaminya.

3. Jaringan Internet Semakin Luas

Muncul dan berkembangnya uang non tunai bersamaan dengan berkembang teknologi dan jaringan internet. Saat ini kita tinggal di masa jaringan 4G, di saat bersamaan jaringan 5G sedang disempurnakan. 10-20 tahun kedepan, ketika uang non-tunai menjadi barang primer, tentu dibutuhkan jaringan internet yang luas dan stabil di seluruh sudut kota.

Bisa kita bayangkan jika uang tunai sudah tidak kita butuhkan, maka untuk membayar secangkir kopi di warung kopi di sudut desa terpencil kota, kita hanya ada pilihan untuk menggunakan e-money. Sudah barang tentu jaringan internet di masa depan sudah jauh lebih luas dan stabil dibanding masa sekarang. Harga-harga kuota internet akan jauh lebih murah dan jaringan wifi akan semakin mudah ditemukan.

4. Smartphone adalah 3/4 nyawa manusia

Gambaran ini tentu sudah bisa kita rasakan sekarang bukan? Hal utama yang akan kita pastikan ketika akan keluar rumah adalah memastikan smartphone kita tidak tertinggal. Bukan wujud smartphone-nya yang kita butuhkan, akan tetapi data di dalamnya itulah yang menjadi separuh nyawa kita. 

Jika di masa sekarang yang mana masih dibutuhkan uang tunai saja smartphone sudah seperti setengah nyawa kita, lalu bagaimana di masa depan ketika uang tunai sudah tak lagi dibutuhkan dan segalanya ada di dalam gadget kita? Yang sebelumnya hanya setengah maka akan meningkat menjadi tiga perempat nyawa manusia.

5. Perampok Bank Menjadi Ahli IT?

Perampok-perampok kelas teri yang tidak mengikuti perkembangan zaman tentu akan pensiun. Akan tetapi perampok-perampok yang sudah mana kejahatan telah menjadi tujuan hidupnya tentu akan berusaha keras untuk belajar dan menjadi ahli teknologi, tujuannya tetap untuk merampok uang-uang digital yang ada di perbankan.

Terlepas dari baik buruknya, positif atau negatif, keuntungan dan kerugian yang akan ditimbulkan dari gambaran nyata sekarang dan gambaran masa depan, kita tidak bisa menolak perkembangan zaman atau kita akan tertinggal dan hilang. Jadi, bijaklah menghadapi situasi kondisi di masa sekarang dan masa yang akan datang. Hal terpenting, tetaplah bersosial dengan lingkungan karena kita hidup bukan di alam digital. Keep aware, Gengs!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...