Langsung ke konten utama

"Alternatif Berjabat Tangan, Meminimalisir Risiko Tertular COVID-19"


Oleh : Nurul Syifa Putri
Ilustrasi : Amaliah Fitriani
Editor dan layouter : Fariz Amroe Syam, Amaliah Fitriani

Setelah ditetapkannya virus Corona sebagai Pandemi Global Oleh WHO, setiap negara yang beberapa warganya telah terinfeksi virus inipun melakukan penanganan dan tindakan preventifnya masing-masing. Termasuk salah satunya Indonesia.

Karena penularan virus inipun lewat human to human, maka kewaspadaan meningkat dan interaksi antar orang secara fisikpun dikurangi, salah satunya adalah dengan memodifikasi jabat tangan. Sebagai bentuk antisipasi, namun tetap menunjukan rasa hormat, jabat tangan dilakukan tanpa bersentuhan tangan. Penasaran bagaimana cara lain berjabat tangan? Yuk di simak!

National University of Singapore (NUS) Yong Loo Lin of Medicine mengeluarkan, beberapa alternatif salaman, berikut ini:

1. Melambaikan tangan.
    Melambaikan tangan saat bertemu seseorang adalah cara paling umum yang dilakukan. Cara ini tidak membutuhkan kontak fisik satu sama lain sehingga potensi untuk bertukar bakteri dan virus pantang terjadi.

2. Salam "Wai" di Thailand atau "Namaste" di India.
   Serupa dengan mendekap kedua tangan di dada, Salam wai dan namaste sedikit mirip.  Cara salam ini juga tidak memerlukan kontak fisik satu sama lain. Sambil tubuh sedikit membungkuk hormat.

3. Salam siku.
   Salam siku menggunakan siku. Anda dan orang lain dapat saling menyorongkan siku masing-masing.
Siku menjadi bagian tubuh yang akan sulit terjangkau oleh wajah sehingga kecil kemungkinan menjadi media penularan virus corona.

4. Salam menggunakan kaki.
   Salam menggunakan kaki begitu viral setelah video beredar cara mempraktikkan tos kaki.
Tren salam ini datang dari Wuhan, yang dikenal dengan ‘Wuhan Shake’. Cukup kaki Anda masing-masing saling dijulurkan.

Unik-unik bukan? Jadi metode bersalaman mana yang ingin kamu terapkan saat bertemu dengan orang lain? Atau kamu punya metodemu sendiri? Jangan lupa share ke kita, dan jangan lupa jaga kesehatan ya, folks~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...