Langsung ke konten utama

Kuliah Online? Uang Jajan?!


Oleh: Faiz Akmal, Salsabila Rosada, Salwa Nadilla
Layout: Salsabila Rosada

Penetapan wabah virus COVID-19 sebagai bencana nasional ditahun 2020 ini telah membuat hampir seluruh wilayah di Indonesia meliburkan universitas dan mengganti sistem belajar dari rumah atau Home Learning. Home Learning adalah sebuah sistem pembelajaran dengan cara online atau E-Learning.

Mahasiswa merasakan dampak yang besar akibat dari wabah ini, di antaranya pembelajaran yang terhambat dan tidak bisa bertemu dengan teman-teman di kampus. Namun, ada satu hal menarik yang menjadi pertanyaan kami, bagaimana dengan nasib uang jajan para mahasiswa?

Apa pendapat mereka tentang hal ini? Berikut ulasan dari What They say Katuara.

"Berpengaruh banget . Because, kalau gak pergi kuliah ya nggak akan dapat uang jajan lah. Masa kita gak ngapa-ngapain dan di rumah aja perlu uang jajan. Setidaknya bisa meringankan beban orang tua secara nggak langsung, karena gak dapet uang jajan."
-Azzahra Sri Ramadhantya, Mahasiswi FST semester 2

"Uang jajan tetap dikasih walaupun gak kuliah karena bantu orang tua. Jadi, uang yang di kasih sebagai rewards karena udah bantu."
-Adam Mustofa, Mahasiswa FAI semester 2

"Ngaruh lah, saya sama sekali gak dikasih uang jajan. Lagipula, malu minta juga udah gede . Buat apa uang jajan juga, kan dirumah."
-Denaldy Abdul Jabbar, Mahasiswa FKIP semester 2

Ngaruh banget. Soalnya kan dirumah doang ya, saya kalau di rumah aja tuh gak dikasih uang jajan. Karena kalo mau apa-apa langsung dibeliin. Walaupun belajar online, nggak dikasih uang pulsa juga karena dirumah pakai WiFi. Jadi, dirumah gak pegang uang jajan sama sekali."
-Indah Safitri, Mahasiswi FEB semester 4

"Saya kan ngekos di dekat kampus, biasanya dikasih uang jajan sama orang tua seminggu sekali, tapi semenjak kuliah online di rumah, saya gak dapat uang jajan. Jadi gak ada pemasukan buat jajan. Ya semoga bumi kita lekas pulih deh supaya bisa berjalan normal seperti biasanya."
-Toyyibah Adwiyah Hasan, Mahasiswi FAI semester 4

Kita berdoa semoga semuanya dapat berjalan dengan normal kembali. Tidak ada lagi wabah COVID-19 yang membuat masyarakat takut untuk bepergian keluar rumah dan saling curiga satu sama lain. Dengan kembali normalnya aktifitas perkuliahan, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dengan normal, dapat bertemu dengan teman-teman, dan pastinya, menerima kembali upah jajan mereka dengan normal. Stay safe Fellas! #SocialDistancing #DiRumahAja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...