Oleh : Gupong's (Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Agama Islam Tahun 2015)
Ada apa dengan judulnya? Penulis rasa hal ini masih bisa kita diskusikan bersama. Motif dan tujuan mengapa judul ini bisa tercetus, pastinya bukan untuk omong kosong belaka, apalagi untuk bahan lawakan.
Apa yang kalian rasakan ketika membaca judul ini? Tertawa? Marah? Kesal? Sedih? Ironi? Semua hanya masalah kondisi dan posisi, kalian-lah yang akan meresapi maknanya sesuai dengan kehendak kalian. Jelasnya, Penulis tidak ingin menggelitik, apalagi sarkastik. Karena memang tulisan ini dibuat bukan untuk jadi bahan tertawaan, melainkan muhasabah (intropeksi -red) khususnya bagi siapapun orang yang sedang mempunyai taring di organisasi, umumnya untuk pribadi kita masing-masing.
Sebagai orang yang pernah menggeluti pergerakan di kampus, kepentingan adalah hal yang tidak bisa dihindari ketika kita membawa nama sebuah instansi. Mulai dari mewujudkan visi dan misi, program kerja, dan mematenkan eksistensi adalah bagian dari kepentingan itu sendiri. Penulis menilai hal ini lumrah adanya di saat instansi yang kita bawa sedang membutuhkan support lebih dari pihak luar. Namun ada catatan dari Penulis, bahwa ini hanyalah bagian dari pergerakan, bukan tujuan utama.
Mahasiswa adalah seorang yang intelek, berpikir dan bertindak cerdas. Setidaknya, hal ini yang masih diimani oleh masyarakat. Ketika seseorang memiliki gelar sarjana, maka ia akan dipandang lebih oleh masyarakat luas. Maka dari itu, hingga detik ini masyarakat masih mempercayakan pengawalan kebijakan negara kepada mahasiswa selaku kepanjangan mulut rakyat. Artinya, sudah seyogyanya orientasi utama dari pergerakan adalah kepentingan umat, bukan sekedar untuk upload konten di media sosial belaka.
Mengapa rasanya pergerakan saat ini jadi lebih hambar? Padahal sehari-hari kita dicekoki dengan motivasi dari berbagai macam lini, dan permasalahan-permasalahan yang makin kompleks, baik di dalam tubuh pemerintahan maupun urusan perut umat. Setelah Penulis mencoba mencermati dan mengkaji lebih dalam, ternyata ada satu permasalahan yang cukup fundamental yang kini menjadi "bara api" bagi mahasiswa, yaitu "Orientasi".
Orientasi adalah masalah mendasar di dalam pergerakan. Gampangnya, setiap pergerakan pasti ada tujuan, dan setiap tujuan pasti menghendaki cara untuk mencapainya. Kalau yang bergerak tidak punya tujuan, lantas ke mana arah dan langkah yang mau ia tuju? Maka di sinilah awal mula lunturnya orientasi.
Ada sebuah doktrin yang lahir di kalangan organisatoris. Dasarnya, doktrin ini dinilai tepat bila jatuh di tangan orang yang tepat. Artinya, bila jatuh ke orang yang tidak "tepat", maka bisa jadi ambyar. Biasanya, dalam rapat penyusunan Proker (Program Kerja -Red), ada bahasa "celetukan" yang selalu dilontarkan para pengurus terdahulu. Pengurus terdahulu biasanya selalu menekankan kepada pengurus baru untuk terus membuat program kerja, bila perlu lakukan inovasi dan kreatifitas sebanyak-banyaknya dalam pelaksanaannya. Tujuannya? Mencairkan dana kemahasiswaan dari universitas. Lantas apa yang menjadi masalah, bukankah itu wajar?
Hal yang harus disoroti adalah untuk apa kelanjutan penggunaan dari dana kemahasiswaan tersebut? Tentu jawaban pertama, membeli inventaris untuk keperluan sekretariat, atau untuk dialihkan ke uang kas keorganisasian. Sisanya? Ya kita habiskan bersama anggota. Lalu muncul pertanyaan dari Penulis, apakah itu orientasi utama pergerakan? Lalu apa fungsi dari Tri Dharma? Lalu apa bedanya dengan Event Organizer (Penyelanggara Acara -red)?
Penulis pernah membahas ini di tulisan sebelumnya, dengan judul "Di Balik Bopengnya Wajah Pemira UIA" (bisa dilihat di Blog Penulis, susugueee.blogspot.co.id). Lantas, apa yang membedakan pergerakan mahasiswa, yang diwakili oleh Badan Eksekutif (BEM), dengan Event Organizer (E.O)? Jelas yang membedakan adalah "Orientasi".
Ketika berbicara E.O, maka kita bicara Business Oriented alias bisnis. Semua bentuk kerja sama di E.O adalah kerja sama yang berorientasi bisnis, bukan keikhlasan semata. Artinya, ada timbal balik jelas yang diharapkan dari kerja sama tersebut. Sedangkan pergerakan BEM, harus berdasarkan orientasi poin-poin yang ada di dalam Tri Dharma, terutama untuk masyarakat. Artinya, segala bentuk program kerja harus berdasarkan apa-apa yang kini menjadi kebutuhan masyarakat.
"Lalu artinya apa pergerakan BEM saat ini tidak berorientasi untuk umat?" Penulis tidak mau judgmental, namun mari kita review sejenak pola pergerakan di kampus kita hari ini. Apakah masih ada diskusi-diskusi yang dilakukan di kampus? Kalau ya, apa tematik pembahasannya? Lalu, untuk siapakah tematik dari diskusi tersebut? Apakah diikuti oleh orang banyak? Dalam hal ini, apakah peran BEM sebagai badan ekeskutif di kampus sudah efektif dalam menghidupkan animo mahasiswa untuk berdiskusi? Sekali lagi, Penulis tidak merasakan hal ini berjalan dengan baik. Hal yang kita ketahui sampai hari ini adalah, hanya ada rapat dan rapat, yang sejauh ini belum ada hasilnya. Hasilnya untuk siapa pun Penulis tidak faham. Mungkin ini keterbatasan dari Penulis karena tidak berada di kepengurusan, maka Penulis tidak ingin berjustifikasi lebih jauh.
"Jadi, seharusnya rakyat adalah orientasi utama pergerakan dari BEM?" Jelas! Karena inilah tujuan mengapa kita bisa mengenyam bangku perkuliahan, yaitu untuk mengabdi kepada masyarakat, bukan sekedar lulus lalu bekerja di perusahaan beken bin tenar! Misalnya, diskusi rutin yang membahas tentang keresahan masyarakat saat ini, dialog interaktif bersama universitas soal pemberdayaan masyarakat, hingga menuntut pemerintah untuk menyelesaikan keresahan di masyarakat.
Bicara kata "abdi", maka orientasi nya bukan perut, tapi soal ikhlas atau enggak. Ikhlas untuk berdedikasi, berjuang untuk membantu membangun sendi-sendi kehidupan di masyarakat.
"Bukannya setiap program membutuhkan biaya? Lalu darimana kita mencari anggaran pendanaan kalau bukan menyelenggarakan acara?" Sekali lagi Penulis tekankan, pada dasarnya doktrin ini tidak salah, namun harus jatuh ke tangan yang tepat. Kenapa? Karena ini berkaitan dengan visi dan misi dari organisasi tersebut, terutama dalam hal ini BEM. Dalam hal ini, sosok yang sangat berpengaruh adalah Ketua, karena ia-lah yang akan membawa arah pergerakan dari BEM itu sendiri selama masa menjabat. Oleh karena itu, figur ketua haruslah seorang yang visioner dan berdedikasi untuk umat, bukan untuk duduk di kursi lipat.
BEM rasa E.O, mungkin itu gambaran yang menohok dari penulis untuk pergerakan saat ini. Umat bukan lagi menjadi topik pembahasan, melainkan "acara apa yang akan kita adakan setelah ini?". Diskusi bertemakan masyarakat sudah tidak lagi bergema, yang ada kini hanya berkutat dalam "rapat" untuk memperdebatkan konsep acara. Pemberdayaan kader-kader yang seharusnya dibentuk menjadi pribadi yang kritis sekarang beralih menjadi pembentukan kader yang "pragmatis". Akibatnya, program yang tidak terarah dan cenderung sepi peminat.
To be fair, Penulis sendiri sedang merintis sebuah E.O di luar, karena memang bisnis menjadi hal yang mendominasi dari pergerakan ini. Namun, Penulis tetap fair dengan menyebut bahwa pergerakan ini benar berorientasi bisnis, bukan pergerakan yang "dikemas" dengan wajah "sosial" yang di dalamnya ternyata hanya dimanfaatkan untuk mencari cuan (uang -red) belaka.
Pribadi Penulis ingin berpesan untuk teman-teman yang masih bergerak di kampus, dalam hal ini adalah BEM. Dalam hal ini, Penulis berpesan kepada kalian selaku strata yang dianggap mampu mewakili suara umat. Tanamkan di setiap program nilai-nilai idealisme yang memihak untuk umat, jadikan setiap pengkaderan adalah untuk membentuk pribadi yang jujur dan kritis, bukan penjilat dan pragmatis. Satu hal terakhir yang tidak kalah penting, tanamkan nilai religi yang akan menuntun pergerakan kita menjadi pergerakan yang membawa kita ke arah yang lebih baik, dan mencegah kita untuk berjalan ke arah yang salah.
Penulis bukan pribadi yang sempurna, mohon maaf bila ada salah tutur kata, maupun asumsi dalam tulisan yang Penulis sampaikan. Bukan pertikaian yang Penulis harapkan, namun adanya tindak dan tanduk penyelesaian bersama untuk umat. Bukankah tujuan kita bersaudara adalah saling menasehati dalam kebenaran serta kesabaran? (Qs. Al-'ashr : 3)
Wallaahu a'lam bis showwaab.

Komentar
Posting Komentar