Langsung ke konten utama

Apa Kata Mereka Tentang BEM?



Oleh : Selviana Indah Saputri , Rahmi Nur Amalia


Badan Eksekutif Mahasiswa atau yang disingkat BEM adalah organisasi mahasiswa intra kampus yang merupakan lembaga eksekutif di tingkat pendidikan tinggi yang dipimpin oleh seorang Presiden Mahasiswa untuk tingkat Universitas dan Ketua BEM untuk tingkat Fakultas. BEM sendiri mempunyai fungsi eksekutif yang bertanggung jawab untuk menerapkan hukum dan kebijakan lain yang berlaku baik pada tingakat Universitas maupun tingkat Fakultas.

Sebagai badan eksekutif yang memegang peranan penting sudah seharusnya BEM dikenal sebagai fungsi dan peranannya sesuai tri darma perguruan tinggi bukan hanya sebagai formalitas struktur Universitas semata.

Lalu bagaimana pendapat mahasiswa UIA terhadap BEM dilingkungan Universitas Islam Assyafiiyah ?

Rangkuman dari beberapa pendapat mahasiswa Universitas Islam Assyafiiyah untuk dijadikan sampling.

Menurut kamu, BEM itu apa sih?

" Jujur sih ya kalau masalah BEM UIA aku masih belum tau betul sistem dan yang lainnya. Karena memang gak aktif dalam hal apapun Tapi sepengetahuan aku tentang BEM KBM UIA. BEM KBM UIA Merupakan Organisasi Internal kampus  dimana yg menjadi penghubung antara Mahasiswa dengan para dosen maupun pimpinan universitas." - Uttiyah Sarah (FEB semester 2)

Pendapat lain

"Menurut saya, sebagai mahasiswa yang apatis. Sepertinya BEM UIA kurang dalam bersosialisasi siapa mereka, tujuan, guna, dan kenapa mereka bisa ada" - Abdullah Zidan (D3 Keperawatan, Semester 2)

Apa pendapat kamu tentang Kinerja BEM baik BEM U maupun BEM F masing-masing ?

" untuk BEM FEB yang pernah aku perhatiin, kurang mengayomi angkatan dibawah nya. Masih ada istilah senior sama junior
Dan kalo buat acara jarang on time.
Tapi klo buat ada kegiatan sosial bagus sih mereka, cepat tanggap , kalau BEM Universitas aku kurang tau " - Uttiyah Sarah (FEB , Semester 2)

Apakah kamu tau siapa saja yang ada distruktural BEM Universitas dan BEM Fakultas masing-masing ? (Paling tidak BPH)

" saya mohon maaf karena Belum tau " - Wahyudi (Fikes, Semester 2)

" yang saya tau BEM UNIV presiden mahasiswanya Edy dan Wakil presiden mahasiswanya Aldi dan untuk BEM FAKULTAS EKONOMI ketuanya Alam , selebihnya saya kurang tau mungkin juga karena saya mahasiswa kelas malam dan kurang sosialisasi ke mahasiswa kelas malam mengenai BEM"- Warnih (FEB, Semester 8)

Terakhir apa harapan kamu terhadap BEM baik Universitas maupun Fakultas masing-masing ?

"Makin efektif lagi kinerjanya dan buat tahun yang akan datang tidak perlu banyak rencana agar mudah terlaksana" Musyaffah (FAI, semester 6)

"Harapannya, semoga bisa lebih terlihat aksi nyata nya sesuai fungsinya dan terlihat bahwa BEM UIA itu ada" Abdullah Zidan (FIKES, semester 2)

Dapat disimpulkan bahwa masih banyak mahasiswa yang sama sekali belum mengenal Badan Eksekutif Mahasiswa baik strukturalnya maupun fungsi dan perannya. Entah itu didasari oleh keacuhan mahasiswanya itu sendiri atau kurangnya Badan Eksekutif Mahasiswa merangkul dan bersosialisasi lingkungan sekitarnya.

Harapan yang sangat besar kepada BEM Universitas dan Seluruh BEM Fakultas di Universitas Islam As-Syafiiyah agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan jangan hanya menjadi Badan Event Oranganizer tetapi bekerja sesuai Fungsi dan Peranan Badan Eksekutif Mahasiswa serta sudahilah merekrut anggota dari circle tertentu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...