Langsung ke konten utama

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎ 
Reporter : Salwa Alya
Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada

Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh.

Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal. 

"Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan refund meskipun tidak penuh, sekitar Rp10–11 juta," katanya saat dikonfirmasi, Selasa (10/6/2025). 

Ia menambahkan, proses pengembalian dana berjalan cukup lancar dan transparan. Pengajuan itu dilakukan dengan akses password dari yayasan yang sudah disiapkan.

Di satu sisi, hal berbeda nampak dari salah satu peserta yang masih menanti kepastian dari pihak yayasan, universitas, maupun LPK itu sendiri. Ia mengungkap, pihak universitas selaku pelindung, maupun LPK selaku penyelenggara, seakan lepas tangan terutama bagi peserta yang belum lulus di tahap bahasa.

"Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja," ucap sumber LPM Katuara lainnya.

Ia merasa sangat dirugikan karena dirinya rela keluar dari pekerjaan demi mengikuti program yang kini justru mandek tanpa alasan. Tak ada kejelasan baik dari alur keberangkatan, sistem pembelajaran, maupun kontrak kerja. Ia juga mengkritik transparansi aliran dana dan meminta agar kerja sama dengan LPK tersebut segera dievaluasi.

Hal yang lebih mengejutkan, ketimbang membenahi masalah yang sudah berlarut itu, pihak yayasan justru membuka kembali program gelombang ke dua tersebut dan sudah memasuki proses pembelajaran.

Para peserta yang tidak diberi kejelasan ini mengaku cemas. Mereka berharap adanya evaluasi dengan menghentikan program ini sementara. Selain itu, mereka juga meminta pihak terkait agar secara transparan memberikan kejelasan kegiatan tersebut mulai dari alur pemberangkatan, kontrak kerja yang pasti, serta pertanggungjawaban penggunaan dana dari semua pihak terkait.

"Artinya uang pendaftaran kembali masuk dari peserta baru, dan khawatir akan ada kekecewaan jilid dua jika sistem tidak segera dibenahi," tegasnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...