Langsung ke konten utama

Isu Aklamasi BEM U, Nabila : "Kami Sudah Membuka Komunikasi Dengan BEM F"

Reporter : Salwa Alya, Muhamad Solihin 

Ketua MPM UIA, Nabila Putri, mengklarifikasi terkait isu Pemilu Raya (PEMIRA) yang berakhir dengan aklamasi. Ia menjelaskan, mekanisme pencalonan Capres-Cawapres sempat dibuka secara publik. 

Ia menjelaskan, MPM sudah melakukan komunikasi dengan BEM F terkait isu pasifnya BEM U saat ini, sekaligus membahas isu pergantian serta pencalonan Ketua BEM U. 

"Sudah. Waktu itu sudah Kita lakukan, sekalian dengan mencari pengganti baru (kepengurusan BEM U -red)." 

Terkait permasalahan yang terjadi di dalam BEM U, Nabila mengaku tidak mengetahui persis apa yang sedang terjadi. 

Bahkan menurutnya, MPM hingga saat ini juga belum mendapatkan berkas-berkas pendukung dari jajaran BEM U. Menurutnya, faktor komunikasi jadi kesulitan utama untuk mendapatkan informasi dari BEM U. 

Adapun saat sayembara pencalonan dibuka, sudah ada perwakilan BEM F yang mendaftar. 

"Waktu itu sempat ada yang mencalonkan 4 bakal calon. Hanya saja waktu ingin Kami tutup, 3 bakal calon ini mencabut berkasnya." pungkasnya. 

Adapun 1 bakal calon yang masih bertahan, akhirnya ditetapkan menjadi calon tunggal secara aklamasi. 

"Satu bakal calon ini dari BEM FST (Fakultas Sains dan Teknologi -red)." 

Nabila mengakui, faktor waktu menjadi pertimbangan utama dipilihnya kembali jalan aklamasi. Menurutnya, jangka waktu penerimaan calon mahasiswa baru yang semakin dekat menjadi pemicu kuat diambilnya keputusan ini. 

"Tentunya ini juga atas diskusi Kami dan pertimbangan dari Wakil Rektor 3." 

Terkait pelantikan Capres-Cawapres terpilih, MPM berencana akan melakukan sidang paripurna terlebih dahulu. 

"Kami sedang berkomunikasi dengan Warek 3 (Wakil Rektor 3 -red), dan Kami juga sudah berkomunikasi dengan Ketua serta jajaran anggota BEM U saat ini agar dapat Kami terbitkan SK (untuk Capres-Cawapres terpilih -red)." 

Ia menegaskan, MPM menargetkan penyelesaian proses hingga pelantikan harus rampung sebelum penerimaan mahasiswa baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...