Reporter : Salsabila Putri Ivani, Salwa Alya
Editor : Salsabila Rosada
Isu terkait keberangkatan peserta Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Jepang dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) ramai dibicarakan di kalangan mahasiswa. Menanggapi hal tersebut, Dekan FIKES UIA, Siti Fatima, akhirnya angkat bicara. Ia menyatakan bahwa dirinya telah menerima informasi mengenai isu ini sejak Kamis (12/6).
“Ya, saya sudah menerima informasi semalam dari Pak Agus (Wakil Dekan FIKES -red),” ujarnya saat ditemui Tim Redaksi Katuara pada Senin (16/6). Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Wakil Rektor III, Damrah Mamang. Ia mengatakan bahwa program LPK Jepang ini diketahui oleh pihak universitas karena telah memiliki nota kesepahaman (MoU).
“Kami disini hanya sebagai pelaksana bahwa universitas telah melakukan kegiatan MoU, dan karena salah satu programnya ditujukan untuk perawat, maka kami menyosialisasikan kepada mahasiswa keperawatan. Selanjutnya, mahasiswa yang berminat mendaftarkan diri langsung ke LPK. Kami (FIKES -red) hanya bertugas menyosialisasikan,” jelasnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa fakultas mempersulit mahasiswa atau peserta yang ingin mundur dari program tersebut.
“Terkait pengunduran diri, kebijakan berasal dari pihak LPK. Mahasiswa diminta membuat surat pengunduran diri. Ada beberapa yang sudah membuat surat, dan uang mereka dikembalikan setelah dipotong untuk biaya paspor dan kursus. Namun, memang ada juga yang mengundurkan diri sebelumnya tanpa proses yang jelas. Beberapa mungkin merasa kesulitan belajar bahasa Jepang sehingga memilih mundur,” katanya.
Fatima menegaskan bahwa uang pendaftaran dari mahasiswa tidak satu pun masuk ke fakultas, melainkan langsung disetorkan ke pihak LPK.
“Kalau mahasiswa sudah membayar, kami tidak menerima uang sepeser pun. Tidak ada praktik ‘colong-mencolong’. Uang sebesar Rp25 juta itu langsung diserahkan kepada lembaga, bukan kepada fakultas,” tegasnya.
Ia juga mengklarifikasi mengenai isu paksaan dalam program vaksinasi pada tahun 2021. Fatima menyatakan bahwa tidak ada paksaan, bahkan mahasiswa justru antusias karena mendapatkan insentif.
“Program relawan vaksinasi kami sosialisasikan kepada seluruh mahasiswa. Tidak ada paksaan. Justru karena ada fee , mereka berebut ingin ikut. Kalau saya batasi hanya satu kelas, malah mereka protes. Jadi kami umumkan di grup, dan banyak yang mendaftar secara sukarela,” jelasnya.
Terkait keberlanjutan program LPK, Fatima menyampaikan bahwa tahun ini masih ada peserta yang diberangkatkan.
“Awalnya lima orang diberangkatkan. Pada Mei lalu, enam orang, termasuk saudara Pak Agus, juga diberangkatkan. Akhir bulan ini, satu orang lagi, Winda, akan berangkat. Dia sebelumnya menyatakan ingin melanjutkan, belajar lebih giat, dan akhirnya lulus. Kalau sudah lulus N4, baru bisa diberangkatkan. Itu syarat mutlak dari pihak LPK,” terangnya.
Ia juga menyebut bahwa mahasiswa UIA yang telah bekerja di Jepang merasa senang dan diapresiasi oleh pihak institusi di sana.
“Alhamdulillah, ini sekaligus menjadi ajang promosi. Saat kami ke Jepang, kami bertemu langsung dengan Presiden Direktur dan Kepala SDM di sana. Mereka menyampaikan bahwa lulusan UIA lebih baik dibanding caregiver lokal. Bahkan, saat peserta tiba di Jepang, mereka langsung menandatangani kontrak dan kini menerima honor lebih tinggi dari tenaga kerja Jepang untuk pekerjaannya,” tambahnya.
Komentar
Posting Komentar