Langsung ke konten utama

Polemik di Awal 2020, Apa Kata Mereka?

Oleh : Selviana Indah Saputri
Layout : Amaliah Fitriani

Sejak 1 Januari sampai 10 April 2020, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat total bencana di Indonesia berjumlah 1069 kejadian. Bencana yang mendominasi yaitu banjir, angin puting beliung, dan longsor. Bencana wabah Covid-19 pun masih terus berlangsung sampai saat ini  (20/04).

Peristiwa ini menyebabkan banyaknya korban jiwa dan kerusakan. Terhitung lebih dari 100 orang meninggal dunia karena bencana hidrometeorologi dan lebih dari 500 kematian yang disebabkan dari wabah Covid-19.

Lalu bagaimana tanggapan mahasiswa mengenai hal ini? Adakah sisi baik yang dapat diambil dari segelintir peristiwa ini?

Berikut rangkuman dari tanggapan mereka.

"Menurut saya di tahun 2020 ini banyak suka duka yang bisa di jadikan pelajaran, mulai dari mempunyai pengalaman yang lebih tentang bagaimana melayani pasien secara langsung di rumah sakit, dan membuat saya sadar akan menjaga kesehatan itu penting, terutama menjaga kesehatan kedua orang tua. Lalu di tahun 2020 ini saya ngerasa bumi sudah lelah dengan perilaku manusia yang suka merusak dan tidak menjaga bumi. Karena banyak bencana yang hadir secara bergantian, seperti banjir di Jakarta dan beberapa tempat lainnya, seperti Nasio dll, dan itupun bisa jadi pelajaran karena itu akibat kita juga yang tidak menjaga lingkungan seperti buang sampah sembarangan, menebang pohon, dan lain-lain. Lalu dilanjut dengan longsor, dan di tahun 2020 ini banyak bencana yang meyakinkan bahwa manusia tidak ada apa-apanya di banding kekuasaan Allah, dan akhir-akhir ini di kejutkan dengan adanya virus corona, yang membuat manusia dilanda ketakutan, kebingungan dan membuat umat islam tersiksa, karena sebagian masjid dan musholah di tutup, karena takut menyebarnya virus tersebut." - Gina Luthfiah Muthmainnah, D3 Keperawatan semester 4 UIA.

"Menurut saya di 2020 ini kurang baik keadaanya, dari awal bulan banjir dimana-mana memasuki bulan Maret adanya virus Corona, ekonomi menurun yang rakyat kecil." - Rifdah Alpha Pratiwi, FIKes semester 2 UIA.

"Banyak bencana, banyak berita-berita yang simpang siur juga. Tapi saya nyikapinnya ya gimana ya. Harus banyak berdoa juga. Tetap waspada juga. Hal baiknya kita tetap di rumah saja kan untuk keselamatan masing-masing individu. Kalau pun memang penting banget untuk keluar ya tetap hati-hati." - Feilasufa Sania, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

"Karena Januari - Februari belum ada terlalu gencar korona dan belum merasakan apa-apa juga si jadi masih flat saja. Tapi pas mulai masuk Maret tuh mulai di berlakukan WFH kan, yang secara garis besar bisa tatap muka sama keluarga 24h. Sama akibat adanya korona ini, masyarakat awam jadi tahu tatacara batuk yg benar, cuci yang benar dan menjadi lebih tau seperti apa patologi korona yg bisa impact ke masyarakat jadi lebih ingin tahu tentang berbagai penyakit dan cara pencegahannya." -Abdullah Zidan, FIKes semester 2 UIA.

"Jadi gini sih, emang sangat mengejutkan di awal tahun udah ada banyak tragedi. Awalnya tuh seperti gabisa menerima, kenapa banyak banget musibah di awal tahun seperti ini. Tapi makin kesini makin sadar, ah alam udah mulai lelah sama manusia. Dan ini yang benar-benar alam lakukan, kita udah banyak ditegur dan diingatkan berkali kali di tahun-tahun sebelumnya, tapi ya namanya manusia mana punya rasa puas dan rasa cukup. Jadi beginilah, 
Khusus untuk corona sendiri saya pikir sebenarnya yang berperan sebagai virus di sini adalah manusia.
Untuk Indonesia sendiri, miris ya. Ditengah banyaknya masalah-masalah dunia seperti pandemic, isu WW3, krisis di berbagai negara, kebijakan internasional AS, Indonesia malah memanfaatkan ramainya isu-isu ini dan malah memikirkan kebijakan omnibus law yang pada dasarnya demi keuntungan pejabat semata." - Zaahidah Habibullah A. , FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Dari beberapa tanggapan di atas, dapat di ambil kesimpulan. Bahwa peristiwa yang terjadi saat ini juga merupakan timbal balik dari perilaku manusia itu sendiri.
Untuk itu, sudah selayaknya kita menjaga bumi yang sudah tua ini dan terus meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan yang menciptakan bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...