Langsung ke konten utama

Kuliah Online, Kuota Beli Sendiri?


Oleh : Amaliah Fitriani, Nurul Syifa, Fariz Amroe Syam


Sejak Presiden Joko widodo mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada (2/3), Jokowi mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas diluar rumah. Jokowi meminta masyarakat Indonesia melakukan social distancing untuk mencegah penyebaran Virus Corona.

Sejak diberlakukannya Social distancing, berbagai hal yang di lakukan secara langsung (Offline) berubah menjadi (Online), salah satu yang terdampak ialah pembelajaran bagi siswa maupun mahasiswa.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengemukakan bahwasanya ia mendukung kebijakan pemerintah daerah untuk meliburkan sekolah dan kampus karena penyebaran virus corona yang semakin mengkhawatirkan. 

Begitu pula dengan Universitas Islam As-Syafi'iyah. Untuk menekan angka penyebaran Covid-19, UIA meniadakan kuliah tatap muka langsung dan menjadikan proses pembelajaran dilaksanakan di rumah masing-masing dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada. Berbekal gadget, mahasiswa UIA dapat melaksanakan kuliah online ini melalui berbagai aplikasi. Seperti WhatsApp, classroom, zoom dan lain sebagainya. 

Sudah barang tentu, untuk mengakses aplikasi tersebut mahasiswa perlu terhubung dengan sambungan internet, terutama WiFi atau kuota pulsa. Terlebih dalam hal ini, mahasiswa UIA masih harus menanggung biaya untuk membeli kuota sendiri. 

Lalu bagaimana mahasiswa UIA menanggapi hal ini? 

Menurut Fahri, selaku Ketua Umum BEM FAI, kuliah online ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihan dari yang disebutkan dengan adanya hal ini mahasiswa bisa mengikuti perkuliahan dimana saja dan kapan saja. Namun, menurutnya masih ada beberapa kekurangan.

"Hal ini sangat bergantung kepada jaringan internet, juga perkuliahan online ini hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu saja, apabila mahasiswa/i tidak memiliki gadget alias rusak atau hilang, maka akan sangat memprihatinkan". 

Ia pun berharap kepada kampus memberikan keringanan atau setidaknya memberikan fasilitas pendukung selama pandemi ini masih berlangsung, karena mahasiswa tak mendapat fasilitas yang sama dengan saat kuliah offline. 

Senada dengan Fahri, Ketua Umum BEM FIKES, Fikri, berpendapat bahwa kuliah online ini kurang efisien. Selain membuat mahasiswanya kurang fokus, kurang mendapat materi maksimal, signal dan kuota internet juga menjadi kendala apabila mengalami gangguan. 

Di sisi lain, Gusti, selaku Ketua Umum BEM Fakultas Hukum, berpendapat untuk efektifitas sendiri itu pasti berbeda.

"Mungkin banyak dari teman-teman kita yang belum mempunyai gadget yang memadai ataupun kendala sinyal yang terputus-putus, sehingga membuat kuliah online ini kurang efektif untuk para dosen menyampaikan materinya".

Tetapi menurutnya hal tersebut tak menjadi kendala utama karena banyak teman-teman mahasiswa yang sudah paham untuk mengoperasikan gadget atau teknologi lainnya. Namun ia menaruh perhatian kepada teman-teman mahasiswa yang sudah membayar biaya kuliah tetapi tidak bisa menikmati fasilitas kampus, bahkan harus mengeluarkan kocek tambahan untuk membeli kuota.

"Perlu diingat, kemampuan teman-teman mahasiswa berbeda-beda, mungkin ada dari mereka yang orangnya berprofesi harian, yang disaat seperti ini tidak mudah mencari uang" ujarnya.

Ia berharap kampus untuk memberikan subsidi kuota internet kepada mahasiswa sampai pandemi ini benar-benar pulih.

Lalu bagaimana tanggapan pihak rektorat terhadap hal ini dan terhadap keluhan yang disampaikan?

Heri Sukamto, selaku Wakil Rektor 2 UIA menyatakan bahwa dalam kondisi saat ini, untuk UIA sendiri harus memastikan seluruh mahasiswa, dosen/civitas akademika UIA hanya dengan online yang bisa dilakukan untuk menjaga agar Covid-19 ini tidak terkena pada kita juga.

Terkait dengan upaya kampus dalam memfasilitasi mahasiswanya selama pembelajaran online, seperti subsidi kuota, ia menegaskan bahwa pihak rektoriat sedang mengkaji hal ini.

"Hal ini yang sedang dikaji."

Ia mengatakan, bahwa pihak kampus sedang mempertimbangkan mahasiswa-mahasiswa yang aktif dan telah melunasi SPP untuk diberikan subsidi dari kampus.

"Mahasiswa yang betul-betul aktif dan telah memenuhi tahapan SPP-nya, sehingga dari itu UIA melakukan langkah-langkah untuk subsidi yang dimaksud."

Ia melanjutkan, jika akhir April wabah ini sudah berkurang, maka perkuliahan bisa dengan tatap muka langsung kembali. Namun jika belum berakhir, maka perkuliahan dengan sistem online tetap dilaksanakan selama satu semester.

Ia berpesan agar mahasiswa tetap semangat dan selalu pastikan agar masing-masing selalu dalam keadaan sehat.

Semoga keluhan-keluhan ini segera diatasi oleh pihak kampus. Semoga ada hasil yang solutif dari pengkajian yang dilakukan oleh pihak kampus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...