Langsung ke konten utama

Liputan Aksi Tolak Omnibus Law di Istana Negara


Oleh : Miqdad Zeinnur, Rahmi Nur Amalia, Ahmad Gufron, Amaliah Fitriani, Daffa Baihaqi, Faiz Akmal

Kemarin, tepatnya pada Kamis (8/10), menjadi bagian dari serangkaian aksi unjuk rasa terhadap Pemerintah dan DPR terkait dengan penolakan Undang-undang yang baru saja disahkan pada Senin (5/10), yakni Omnibus Law.

Masyarakat dari beberapa elemen yaitu mahasiswa, buruh dan juga pelajar turun ke jalan. Hal ini membuktikan, pengesahan undang-undang kontroversial ini tak hanya mencederai beberapa golongan, namun hampir seluruh Rakyat Indonesia. 

Tim Redaksi Katuara juga ikut turun untuk meliput aksi 8 Oktober tersebut, bersamaan dengan mahasiswa UIA yang kami sebut Kelompok Kecil UIA.

Siang itu cukup terik. Massa aksi dari UIA mulai berkumpul, untuk membahas teknis lapangan sebelum berangkat ke lokasi Aksi, juga mempersiapkan segala hal yang nantinya diperlukan seperti keperluan logistik dan obat-obatan.

Sekitar pukul 13.10, massa aksi UIA berangkat ke lokasi Aksi. Titik aksi yang dituju adalah Istana Negara. Sesampainya di lokasi pukul 14.00, ternyata rombongan terpisah di 2 kelompok, yakni di Stasiun Cikini, dan 1 kelompok rombongan ada di sekitar lokasi Gedung Kementerian Sekretariat Negara, Jl. H. Juanda.

Kondisi tersebut mengakibatkan terhambatnya rombongan massa aksi UIA masuk ke barisan para demonstran.

Setelah itu, kami mencoba menghubungi satu sama lain. Karena tidak memungkinkan untuk menghampiri salah 1 rombongan, maka rombongan tetap mencoba untuk mendekati titik aksi meskipun berada di titik lokasi yang berbeda. Satu rombongan berpusat di H. Juanda dan rombongan lainnya di Tugu Tani.

Sekitar pukul 14.30, saat rombongan yang ada di lokasi H. Juanda hendak mulai mendekati titik aksi, tak lama kemudian polisi beberapa kali menembakkan gas air mata yang menyebabkan massa berhamburan. Hingga pukul 15.10 masih terdengar dan terlihat gas air mata yang ditembakkan ke arah massa aksi, tak sedikit pula massa aksi yang mengalami luka-luka dan mengalami iritasi serta sesak akibat efek gas air mata. 

Akhirnya, sekitar pukul 15.30 rombongan dari H. Juanda memutuskan untuk merotasi pergerakan dan bergabung ke rombongan yang ada di Tugu Tani. Di jam yang sama rombongan yang ada di Tugu Tani pun menarik massa mundur karena dinilai kondisi semakin tidak terkendali. Kedua rombongan bergerak menuju stasiun Cikini 

Di perjalanan menuju stasiun cikini, terlihat massa aksi membakar ban dan berorasi menyuarakan aspirasinya. 

Sementara rombongan tugu tani yang ingin menuju stasiun Cikini, mereka mengabadikan sebuah moment saat ada seseorang yang melakukan pembacaan puisi perjuangan di bangku taman trotoar.

Setelah menyusuri jalan, sekitar pukul 16.20 akhirnya kedua rombongan bertemu dan menghentikan perjalanan sejenak untuk beristirahat. 

Pukul 16.30 rombongan lanjut berjalan menuju stasiun Cikini, dan bersiap kembali menuju ke kampus. 

Pukul 17.00 setelah semua rombongan berkumpul, maka rombongan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kampus. Sementara beberapa rombongan sudah menuju kampus, rombongan kami mendapat kabar dari kawan mahasiswa UIA yang lain bahwa ada rekan yang terluka. Kemudian, rombongan yang tinggal tersisa 7 orang tersebut memutuskan untuk mendekat ke arah lokasi kawan Mahasiswa UIA yang terluka. 

Pada waktu itu, kondisi di dekat titik aksi semakin chaos dan memanas. Di perjalanan, terlihat Pos Polisi di Cikini dirusak oleh demonstran.

Melanjutkan perjalanan, akhirnya rombongan bertemu dengan kawan massa dari UIA yang lain, juga korban yang mengalami luka saat aksi. Mereka pun berjalan ke tempat yang lebih aman sekaligus menuju tempat penitipan motor, bersiap untuk kembali menuju kampus.

Aksi unjuk rasa ini juga tak hanya terjadi di Jakarta, namun juga hampir di seluruh daerah di Indonesia. Semua daerah melakukan perlawanan yang massif dalam rangka sikap penolakan terhadap pengesahan Omnibus Law oleh pemerintah. Semoga tidak ada korban jiwa yang berjatuhan dan tidak ada lagi rekan-rekan mahasiswa yang menghilang tanpa kejelasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...