Langsung ke konten utama

MTMB 2018 : Persaingan Mahasiswa di Era Global



Pem                 : Ahmad Gufron
Reporter         : Rahmi Nur Amalia, Amaliah Fitriani

Masa pengenalan mahasiswa baru Universitas Islam As-Syafi’iyah atau lebih dikenal Masa Ta’aruf Mahasiswa Baru UIA (MTMB UIA) resmi dibuka pada Selasa kemarin (18/9) oleh Rektor UIA, Masduki Achmad. Opening ceremony berlangsung di Hall Plaza Kampus 1 UIA, Jatiwaringin, Jakarta Timur.
Dalam pidatonya, ia memberikan wejangan semangat dan motivasi kepada calon mahasiswa baru UIA.
“Dalam pasang-surut sejarah peradaban kita, tak bisa dipungkiri bahwa peran pemuda-lah yang membangkitkan dan menyebabkan panji-panji kemenangan.” paparnya saat memberikan sambutan.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh calon mahasiswa baru UIA akan menjadi calon pemimpin yang hebat jika mengikuti arahan-arahan dari semua dosen di kelas.
Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Rektor 3 UIA, Syifa Fauzia. Ia mengucapkan selamat kepada calon mahasiswa baru yang akan mengikuti kegiatan ini selama 3 hari kedepan.
Calon mahasiswa baru, katanya, memiliki beban yang sangat besar di tengah persaingan yang ketat di era global saat ini.
“Diharapkan kepada calon mahasiswa baru agar lebih mengenal kondisi kampus dan perkuliahan, mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh kampus, dan mengambil manfaat yang sebesar-besarnya untuk kalian.”
Ia juga mengapresiasi kinerja panitia penyelenggara MTMB UIA 2018 yang telah mempersiapkan acara dengan maksimal.
Selain itu, sambutan juga disampaikan oleh Presiden Mahasiswa BEM KBM UIA, Zulkarnain Kesuy dan juga Ketua Pelaksana MTMB UIA 2018, Muhammad Ikhsan.
Acara dibuka dengan peledakkan confetti oleh panitia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...