Langsung ke konten utama

Closing Day MTMB 2018 : Selamat Datang di UIA




Pem                 : Ahmad Gufron
Reporter         : Miqdad Zeinnur Ahmad

Setelah 2 hari pelaksanaan, MTMB 2018 memasuki puncak pelaksanaan pada Kamis (20/9) kemarin.
Pada hari terakhir, mahasiswa difokuskan untuk mengenal BEM Fakultas masing-masing. Ada 7 fakultas yang diberi waktu untuk sosialisasi kepada calon mahasiswa baru.
Pada siangnya. calon mahasiswa baru juga diajak untuk melakukan ziarah ke makam Pendiri As-Syafi’iyah, Kh. Abdullah Syafi’ie dan Hj. Tutty Alawiyah selaku pendiri BKMT Indonesia.
Sorenya, terdapat sesi pengenalan UKM di kampus. UKM baru seperti Rumah Ekonomi Kreatif Mahasiswa (REKOM), IT Club, Pencak Silat, dan Pramuka diberikan kesempatan untuk sosialisasi kepada peserta. UNISASPALA, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan Rumah QURMA sebagai UKM yang lebih dahulu eksis juga diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi.
LPM KATUARA UIA, sebagai lembaga baru di kampus juga diberikan kesempatan untuk melakukan sosialisasi kepada calon mahasiswa baru. Miqdad, selaku Ketua Umum lembaga menyampaikan sosialisasi seputar LPM.
“LPM adalah lembaga yang fokus terhadap pers mahasiswa. Kegiatannya diantaranya adalah menulis berita seputar perkembangan di kampus.” paparnya.
“Saat ini kami sedang membutuhkan SDM di bagian reporter, kameramen, editor, layouter, dan litbang. Untuk yang berminat kami membuka kesempatan yang luas.”
Setelah pengenalan UKM, acara dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan Tahlil setelah Sholat Maghrib.
Closing ceremony dilakukan pada pukul 19.30 WIB. Ketua YAPTA, Dailami Firdaus, membuka acara dengan memperkenalkan anak-anak yatim yang diasuh oleh YAPTA kepada calon mahasiswa baru.
“YAPTA berusaha untuk mendidik dan mengembangkan potensi anak-anak yatim.”
Kemudian dilanjutkan dengan penampilan menyanyi bersama dan pembacaan puisi oleh anak-anak YATAMA.
Setelah itu, ada penampilan eksklusif dari UKM Seni Musik dan Tari (SEMUT UIA) dan juga Teater Camuss yang sengaja ditampilkan saat closing ceremony MTMB 2018.
Acara secara resmi ditutup oleh Rektor UIA, Masduki Achmad, dengan pesan bagi mahasiswa baru.
“Jadilah generasi yang aktif dan kompetitif di era persaingan global saat ini.” katanya.
Dilanjutkan dengan peledakkan kembang api oleh panitia dan diramaikan oleh yel-yel Komunitas The Jak UIA.
Selamat bergabung! Semoga menjadi generasi penerus bangsa yang semakin aktif dan peka terhadap isu sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...