Langsung ke konten utama

Kuliah Perdana UIA 2018-2019 : Menjadi Mahasiswa Berprestasi dan Aktif




Pem                 : Ahmad Gufron
Reporter         : Ahmad Gufron, Rahmi Nur Amalia

Sabtu pagi (22/9) dilaksanakan kuliah perdana sekaligus pelantikan mahasiswa baru UIA periode 2018-2019. Acara berlangsung di Hall Plaza Kampus 1 UIA, Jatiwaringin, Jakarta Timur.
Kuliah perdana ini diisi oleh 2 tokoh nasional, Adhyaksa Dault, Ketua Pramuka Indonesia dan Fadli Zon, Wakil Ketua DPR-RI.
Acara dibuka oleh penampilan tari dan juga Paduan Suara UIA. Dilanjutkan sambutan-sambutan dari Rektor UIA, Masduki Achmad dan juga Ketua YAPTA, Dailami Firdaus.
Acara berlanjut ramai ketika Adhyaksa Dault menyampaikan orasi ilmiah. Ia berpesan kepada mahasiswa agar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
“Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa waktu itu lebih tajam dari sebilah pedang, kalau tidak digunakan maka akan memotong diri kita sendiri.”
Ia juga mengutip sebuah artikel karya Profesor Kenichi Ohmae yang berjudul “The End of Nation State”.
“Ada 4 “I” yang mengubah wajah dunia, terutama negara berkembang. Yaitu Investasi, Industri, Individualis, dan Informasi. Yang terakhir inilah yang terparah, merasuk ke relung hati. Ini lah yang merusak anak muda saat ini.”
Sementara itu, Fadli Zon juga menyampaikan orasi ilmiahnya. Ia mengatakan, mahasiswa adalah kaum terpelajar yang mempunyai privilege.
“Itu bukan kenikmatan yang bisa dinikmati semua orang. Tidak semua orang bisa menikmati posisi ini. Banyak orang yang hanya bisa mengecap pendidikan yang rendah.”
Saat diwawancara oleh tim redaksi Katuara UIA, ia berpesan kepada seluruh mahasiswa agar bisa belajar dan aktif dengan diberikan kemudahan dan keleluasaan.
“Semoga mahasiswa-mahasiswa bisa mendapatkan kemudahan dan keleluasaan dalam hal belajar, aktif organisasi dan juga berprestasi. Jangan lupakan kewajiban kepada masyarakat.”
Salah satu peserta kuliah perdana, Sinta, juga mendukung pernyataan kedua tokoh tersebut.
“Tadi sudah disampaikan bagaimana mahasiswa bukan hanya sekedar belajar dan baca buku, tapi mereka harus berorganisasi. Mereka juga harus bangun society di luar, dan nggak hanya mengandalkan otak saja.” katanya.
Setelah acara selesai, ada open stand untuk seluruh UKM yang ada di kampus. Stand ini bisa didatangi oleh mahasiswa baru yang ingin mengikuti unit kegiatan mahasiswa sesuai minat masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...