Langsung ke konten utama

Nonton Bareng Arema Vs Persija The Jak UIA : Loyalitas Terbalut Totalitas




  • Ahmad Gufron

Minggu (5/8) kemarin mendadak kampus menjadi berwarna oranye. Jangan heran! The Jak UIA sedang melakukan nonton bareng pertandingan antara Arema vs Persija di Plasa UIA. Pertandingan sendiri dilakukan di Stadion Kanjuruhan, Malang. Bagi para The Jakmania yang tidak ikut bertandang ke Malang, maka nonton bareng menjadi solusi pelebur duka lara. Open gate dilakukan pada pukul 18.30 di Kampus 1 UIA. Dengan penerangan yang seadanya dan perlengkapan yang sederhana, acara pun tetap berjalan dengan meriah.
Suasana di stadion pun membludak hingga pinggir lapangan, yang menyebabkan pertandingan harus ditunda selam kurang lebih 20 menit untuk mendiskusikan laik atau tidaknya pertandingan dilaksanakan. Akhirnya, penantian penonton pun terbayar dengan diizinkannya pertandingan. Pertandingan berjalan terbuka antar kedua tim. Namun hingga paruh pertama usai, skor masih sama kuat 0-0. Di babak kedua, Dewi Fortuna lebih dulu berpihak kepada Persija. Marko Simic melayangkan flying header nya setelah menerima umpan cantik dari Renan Da Silva di menit 68. Skor 1-0 untuk Persija. Setelah itu Arema menggempur habis pertahanan dari Persija. Kesolidan lini belakang Persija akhirnya kandas pada menit 90 oleh Makan Konate, yang meluncurkan tendangan kerasnya dari luar kotak penalti setelah melewati 2 orang pemain Persija. Skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang berbunyi.
Walaupun hanya memperoleh 1 poin, teman-teman The Jak UIA tetap antusias dengan hasil yang ada. Mereka menyalakan kembang api sebagai tanda bahwa mereka akan selalu cinta Persija dan akan selalu setia bersama Persija dalam keadaan apapun. Semua orang pun terlarut dalam euforia tersebut dengan menyanyikan yel-yel untuk mendukung Persija.
Kami juga menyempatkan berbincang dengan Ketua Komunitas The Jak UIA, Achmad Fudholy, yang juga merupakan mahasiswa semester 6 jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam (PAI FAI UIA). Ia pun menjelaskan sejarah singkat berdirinya The Jak UIA. “Awalnya kita ngumpul bareng di depan warung Euro Futsal. Waktu itu ada Ahmad Khaerullah, Ahmad Zulkifli dan 2 orang lagi. Iseng aja sih waktu itu. Dan terbentuklah The Jak UIA pada 24 Januari 2014” paparnya. Ia juga menjelaskan bahwa The Jak UIA adalah wadah bagi para mahasiswa yang sama-sama menyukai Persija.”Ini sebagai wadah bagi teman-teman The Jakmania yang kuliah di UIA. Bagi kalian yang belum punya korwil (Koordinator Wilayah –red) atau yang udah punya, boleh gabung disini.” lanjutnya.
Pertanyaan cukup menggelitik bagi kami, mengapa di lingkungan kampus perlu didirikan The Jak UIA? “Kita mau merubah mind set orang tentang The Jakmania yang identik dengan rusuh dan sebagainya. Dengan adanya ini (The Jak UIA –red) maka kami berharap mind set orang tentang kami juga akan berubah.” Selain itu, ia menilai dengan adanya The Jak UIA, maka juga akan menjadi nilai jual bagi kampus di masyarakat, terutama di kalangan The Jakmania itu sendiri. “Kita juga gencar mempromosikan kampus. Lewat mana? Ya The Jak UIA ini.” lanjutnya.
Catatan kecil dari The Jak UIA untuk kampus yang mereka titipkan lewat Tim LPM. “Ya enggak muluk-muluk lah untuk kita komunitas. Intinya, kalau ingin mengadakan acara mohon jangan dipersulit.” paparnya santai. “Kita juga udah punya rencana untuk meresmikan komunitas di kampus, cuma lagi-lagi, birokrasinya belum jelas.” tegasnya. Ia juga berpesan kepada para generasi muda di Indonesia untuk berbuat positif untuk bangsa. “Berkarya-lah ke arah positif. Dan tentunya, sesuai passion.”
Semoga di masa yang akan datang semakin banyak pecinta sepakbola yang mengutamakan intelektual, bukan brutal. Dan pastinya, Say no to Drugs! (Ed: Gufron)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...