Langsung ke konten utama

Kesuy – Joni : Harapan Baru Mahasiswa UIA




  • Fitri Dinillah
  • Ahmad Gufron
  • Alifah Fauziah

Siang ini menjadi siang yang bersejarah bagi UIA. Rabu (1/8) telah dilaksanakan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden baru BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah periode 2018-2019, yakni Zulkarnain Kesuy, mahasiswa semester 6 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi, dan Joni Tanjung, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) semester 6 Fakultas Agama Islam. Keduanya dipastikan terpilih secara aklamasi, berdasarkan TAP MPM I setelah Pleno dan sesuai dengan peraturan Panitia Pemilihan Umum (P2U) Bab 8 Pasal 9 Ayat 6 tentang aklamasi apabila calon kandidat kurang dari 1 pasangan. “Kami telah berupaya melakukan sosialisasi melalui media sosial maupun door to door. Kami juga melakukan open stand pendaftaran sebanyak 2 tahap.” papar Arif, Ketua MPM KBM UIA 2018. Senada dengan Arif, Vinny Alvionita selaku Ketua P2U juga memaparkan berita acara seputar jalannya PEMIRA tahun ini. “Terhitung dari tanggal 30 Mei, kami melakukan sosialisasi PEMIRA kepada jajaran pihak kampus. Lalu pada 31 Mei kami melakukan sosialisasi ke Kampus 1 dan Kampus 2.” ujarnya kepada jajaran petinggi kampus tadi. “Adapun open stand dilakukan dalam 2 periode. Periode pertama pada 2-6 Juni, dan 29-30 Juni untuk periode ke dua.” lanjutnya.
“Setelah melakukan pembicaraan internal antara kami (MPM) dengan panitia, maka dengan ini kami putuskan bahwa saudara Zulkarnain Kesuy dan Joni Tanjung lolos sebagai calon presiden dan wakil presiden.” lanjut Arif, yang kemudian dituangkan dalam bentuk TAP MPM I setelah Pleno. “Lalu kami melakukan verifikasi data terhadap paslon ini. Alhamdulillaah mereka negatif dari penggunaan obat-obatan dan sebagainya.” Keputusan ini ditetapkan pada Selasa, 17 Juli 2018.
Lalu dilanjutkan pemaparan visi dan misi oleh kandidat di depan jajaran petinggi kampus. “Visi kami adalah mewujudkan BEM Universitas yang sinergis sebagai wadah aspirasi bagi mahasiswa UIA.” papar Kesuy, calon presiden. “Kami juga ingin menghidupkan diskusi kampus, lalu menguatkan hubungan internal dan eksternal. Kami juga ingin menimbulkan semangat mahasiswa untuk berorganisasi, dan pastinya kami akan berusaha mengembangkan UIA ke jenjang nasional.” lanjutnya. Pemaparan mereka mendapat sambutan yang baik dari jajaran kampus.
Lalu siangnya mereka dilantik di Lt. 2 Gedung KH. Abdullah Syafi’ie oleh Wakil Rektor 3, Hj. Syifa Fauzia, setelah lebih dahulu dilakukan sidang paripurna oleh MPM KBM UIA. “Kami selaku jajaran universitas berharap mereka (Kesuy – Joni) bisa merangkul teman-teman dari BEM Fakultas. Dan bisa berjalan sinkron dengan pimpinan UIA untuk bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif dan mengakomodir banyak hal. Bukan hanya kegiatan, tapi juga dalam hal belajar-mengajar, dan juga keorganisasian dalam kepemimpinan di BEM Fakultas masing-masing.” papar Beliau dalam wawancara dengan Tim LPM. “Dan insya Allah juga banyak kegiatan-kegiatan yang memacu kreatifitas dan memicu pemikiran-pemikiran yang baik. Jadi insya Allah ini bisa dilakukan presma dan wapresma yang baru.” lanjut Beliau.
Namun, Beliau juga menyayangkan tingkat partisipasi mahasiswa terhadap PEMIRA tahun ini lebih pasif daripada tahun yang lalu. “Memang dari kami pihak universitas sebagai pimpinan tentunya menginginkan adanya dinamika politik seperti melihat kontestasi PEMIRA tahun lalu. Namun mungkin memang ada semacam kekurangan ya dari penyelenggaraan PEMIRA sebelumnya, sehingga menimbulkan keraguan bagi teman-teman mahasiswa lain untuk mendaftar. Ini sebenarnya cukup disayangkan.” ujar Beliau.
Menanggapi pelantikan hari ini, Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Kesuy dan Joni, merasa bersyukur dipercaya untuk mengemban amanah ini. “Kami akan berusaha untuk memperbaiki birokrasi yang ada di kampus, terutama masalah komunikasi antara BEM dengan universitas agar bisa lebih baik kedepannya.” ujar Joni, selaku Wakil Presiden terpilih. “Kami akan berusaha melakukan perubahan-perubahan di kampus, yang tentunya sudah kami tuangkan di dalam visi dan misi kami, dan tentunya melalui program kerja kami.” sahut Kesuy. Mereka menamakan kabinet mereka “Kabinet Gotong Royong”. “Tidak ada syarat khusus (untuk jadi anggota –red). Sesuai namanya, kami ingin fokuskan bahwa UIA ini milik kita bersama, bukan pribadi.” lanjutnya. Sebagai pesan kepada mahasiswa lainnya, mereka mengajak para mahasiswa untuk mulai menggiatkan membaca buku dan diskusi untuk memperbaharui ilmu. “Kalau di kelas kita hanya dapat ilmu 20%, sedangkan 40% melalui diskusi-diskusi, dan 40% dari ilmu tadi ada di organisasi.” papar Joni. Tentunya, ini menjadi salah satu misi mereka selama menjabat 1 periode kedepan.
Selamat untuk Kesuy dan Joni! Semoga amanah dalam mengemban tugas mulia ini. Jangan patahkan kepercayaan teman-teman mahasiswa! (Redaksi LPM Katuara UIA)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...