Langsung ke konten utama

Postingan

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...
Postingan terbaru

Isu Aklamasi BEM U, Nabila : "Kami Sudah Membuka Komunikasi Dengan BEM F"

Reporter : Salwa Alya, Muhamad Solihin  Ketua MPM UIA, Nabila Putri, mengklarifikasi terkait isu Pemilu Raya (PEMIRA) yang berakhir dengan aklamasi. Ia menjelaskan, mekanisme pencalonan Capres-Cawapres sempat dibuka secara publik.  Ia menjelaskan, MPM sudah melakukan komunikasi dengan BEM F terkait isu pasifnya BEM U saat ini, sekaligus membahas isu pergantian serta pencalonan Ketua BEM U.  "Sudah. Waktu itu sudah Kita lakukan, sekalian dengan mencari pengganti baru (kepengurusan BEM U -red)."  Terkait permasalahan yang terjadi di dalam BEM U, Nabila mengaku tidak mengetahui persis apa yang sedang terjadi.  Bahkan menurutnya, MPM hingga saat ini juga belum mendapatkan berkas-berkas pendukung dari jajaran BEM U. Menurutnya, faktor komunikasi jadi kesulitan utama untuk mendapatkan informasi dari BEM U.  Adapun saat sayembara pencalonan dibuka, sudah ada perwakilan BEM F yang mendaftar.  "Waktu itu sempat ada yang mencalonkan 4 bakal calon. Ha...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...

Polemik LPK Jepang UIA, Alwan : "LPK Tidak Bisa Disalahkan 100%"

Reporter: Salsabila Putri Ivani, Salwa Alya Editor: Reyhaanah Polemik terkait Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Jepang Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) masih terus berlanjut. Dikabarkan, terdapat kurangnya transparansi dari pihak yayasan yang menyebabkan sejumlah peserta memilih untuk mengundurkan diri. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu alumni program LPK Jepang, Muhammad Alwan, saat dikonfirmasi oleh Tim Redaksi Katuara beberapa hari lalu. Ia menyebutkan bahwa program yang diperkenalkan sejak tahun 2020 lalu memang tidak secara jelas merinci proses administrasi hingga keberangkatan peserta. Mulanya, Alwan menceritakan bahwa program tersebut dikenalkan oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Siti Fatima, dan diselenggarakan oleh DGII, dengan jumlah peserta awal sekitar 70 orang. Sebelum keberangkatan, para peserta mengikuti beberapa kelas yang dimulai pada Januari 2021. “Di fase ini, kami sudah membayar Rp5 juta sebagai biaya pendaftaran, dengan perjanjian a...

Dekan FIKES Bantah Mempersulit Peserta LPK

Reporter : Salsabila Putri Ivani, Salwa Alya Editor : Salsabila Rosada Isu terkait keberangkatan peserta Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Jepang dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) ramai dibicarakan di kalangan mahasiswa. Menanggapi hal tersebut, Dekan FIKES UIA, Siti Fatima, akhirnya angkat bicara. Ia menyatakan bahwa dirinya telah menerima informasi mengenai isu ini sejak Kamis (12/6). “Ya, saya sudah menerima informasi semalam dari Pak Agus (Wakil Dekan FIKES -red),” ujarnya saat ditemui Tim Redaksi Katuara pada Senin (16/6). Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Wakil Rektor III, Damrah Mamang. Ia mengatakan bahwa program LPK Jepang ini diketahui oleh pihak universitas karena telah memiliki nota kesepahaman (MoU). “Kami disini hanya sebagai pelaksana bahwa universitas telah melakukan kegiatan MoU, dan karena salah satu programnya ditujukan untuk perawat, maka kami menyosialisasikan kepada mahasiswa keperawatan. Selanjutnya, mahasiswa...

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

Festival Teater Kampus Jakarta 2023: Teater Camuss “The Death of The Activist”

Reporter: Salsabila Putri Ivani, Fathyan Azmi, Muhammad Syafiq Arrahman, Ahmad Daffa Baihaqi, Salsabila Rosada Editor: Salsabila Rosada Festival Teater Kampus Jakarta sebagai wadah seni pertunjukan teater kembali diadakan pada tahun 2023 ini. Sama seperti 2 tahun sebelumnya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Camuss Universitas Islam As-Syafi’iyah juga ikut andil dan meramaikan acara ini. Pada kesempatan kali ini, Teater Camuss menyajikan pementasan dengan lakon “The Death of The Activist” yang bertempat di Lt. 3 Gedung Baitul Irfan Universitas Islam As-Syafi’iyah, pada hari Jum’at, tanggal 1 September 2023, pukul 19:30 WIB. “The Death of The Activist” merupakan karya seorang seniman yakni Taruna Perkasa Putra yang berasal dari Jember, Jawa Timur. Ia memenangkan Sayembara Naskah Teater Rawayan Awards Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2022. Naskah dialog drama ini dipengaruhi oleh drama teater Endgame karya Samuel Beckett tentang kehidupan pahit, dan memiliki dialog ab...