Langsung ke konten utama

Festival Teater Kampus Jakarta 2023: Teater Camuss “The Death of The Activist”


Reporter: Salsabila Putri Ivani, Fathyan Azmi, Muhammad Syafiq Arrahman, Ahmad Daffa Baihaqi, Salsabila Rosada
Editor: Salsabila Rosada

Festival Teater Kampus Jakarta sebagai wadah seni pertunjukan teater kembali diadakan pada tahun 2023 ini. Sama seperti 2 tahun sebelumnya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Camuss Universitas Islam As-Syafi’iyah juga ikut andil dan meramaikan acara ini. Pada kesempatan kali ini, Teater Camuss menyajikan pementasan dengan lakon “The Death of The Activist” yang bertempat di Lt. 3 Gedung Baitul Irfan Universitas Islam As-Syafi’iyah, pada hari Jum’at, tanggal 1 September 2023, pukul 19:30 WIB.

“The Death of The Activist” merupakan karya seorang seniman yakni Taruna Perkasa Putra yang berasal dari Jember, Jawa Timur. Ia memenangkan Sayembara Naskah Teater Rawayan Awards Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2022. Naskah dialog drama ini dipengaruhi oleh drama teater Endgame karya Samuel Beckett tentang kehidupan pahit, dan memiliki dialog absurd. Sedangkan pementasan yang digelar oleh Teater Camuss ini disutradarai oleh Aura Eka Putri, dan Wardah Tujjannah selaku Pimpinan Produksi.

Lakon “The Death of The Activist” yang diperankan oleh Sephia Amelia sebagai Uma, Muhammad Fauzan Adetya sebagai Kodrat, Nilam Ayu Agung sebagai Kubi, dan Nesya Aulia Sabrina sebagai Lubi, mengisahkan tentang Uma dan Kodrat yang merupakan seorang aktivis Hak Agraria dengan memiliki pendirian teguh, dan pemikiran idealisme untuk melawan birokrasi pemerintah dan kapitalisme di masyarakat.

Bagi Uma dan Kodrat, kapitalisme di atas birokrasi hanya menghambat demokrasi rakyat, terutama masyarakat yang terdampak konflik kepemilikan tanah. Banyaknya pengangguran, bencana alam, dan lingkungan yang tercemar hasil pertambangan ilegal itu merupakan salah satu keserakahan pejabat, dan konglomerat. Akar masalah terjadinya perubahan tatanan masyarakat yang buruk tersebutlah yang membuat Uma dan Kodrat terus mengumpulkan informasi, untuk kemudian akan mengungkapkan ketidakadilan di masyarakat dalam ranah publik. Namun, semakin berlanjutnya kegiatan di luar kendali masyarakat, Uma dan Kodrat semakin kesulitan untuk menyuarakan pendapatnya dikarenakan faktor keterbatasan gerak media massa, dan bencana alam yang terus berlanjut.

Kemudian setelah itu, muncullah dua orang wanita di dalam box bernama Kubi dan Lubi yang menceritakan tentang pahitnya kehidupan dalam batas kapitalisme, dan sulitnya kebebasan berpendapat. Dialog yang dibumbui dengan percakapan tidak masuk akal, dan tidak memiliki kolerasi antara satu sama lain membuat penonton heran dan kebingungan apa maksud dari percakapan tersebut. Dengan berlatar Banker di dalam ruang bawah tanah, lampu pijar sebagai penerangan seadanya, dan pasir yang menyelimuti tempat persembunyian Uma dan Kodrat, sangat mendukung alur cerita yang dibawakan berupa ketidakadilannya kehidupan di bawah pimpinan konglomerat kapitalisme.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...