Langsung ke konten utama

Festival Teater Kampus Jakarta 2021 Dalam Bingkai Warta : Teater Hijrah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

 

Reporter : Ahmad Daffa Baihaqi, Muhamad Aqsha, Kamelia Alif Fajria, Zahra Ananda Kamila
Editor : Salsabila Rosada 

Cuaca mendung menyelimuti langit di sekitaran Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka sore itu, namun sama sekali tidak mengurangi riuh penoton dan semangat para pemain. Sebelum dimulai, penonton diminta untuk melakukan registrasi untuk kemudian bisa masuk kedalam sebuah studio berukuran sedang, berlantaikan kayu serta beberapa set lighting menggantung di langit-langit. Disana seluruh aktor dan pemain instrumen sudah bersiap untuk melakoni pementasan Raja Maling. Lakon ini merupakan sebuah karya dari seorang Galih Mulyadi yang pada pementasan ini disutradarai oleh M. Ilham Nurinsan. 

Pertunjukan Raja Maling merupakan kisah tentang perjalanan Karta yang merupakan ketua dari komplotan maling untuk menaklukkan kekurangan yang ada pada dirinya. Si Raja Maling ini memiliki alergi terhadap wanita dan sangat gugup jika harus berhadapan dengan wanita. 

Karta tinggal dan diasuh oleh ibunya, Maryam. Menyadari usianya yang sudah sangat uzur, ibu ingin sekali melihat anak semata wayangnya bersanding dengan perempuan. Sudah berkali-kali Maryam memerintahkan Karta untuk segera mencari pendamping hidup, namun Karta masih terlampau takut untuk mendekati lawan jenis. 

Setelah ribuan kali pertanyaan dan perintah dari Maryam, akhirnya Karta pun memberanikan diri untuk bisa mendekati seorang perempuan. Atas rekomendasi dan permintaan ibunya, Karta mencoba mendekati Sunarsih, seorang janda di desa Karta tinggal. 

Harinya telah tiba, Karta dan anak buahnya datang menyambangi rumah Sunarsih. Mereka disambut oleh ibunya yang bernama Darsih. Tak semudah yang di bayangkan, Karta seketika merasa gugup lalu menyuruh anak buahnya untuk masuk ke dalam rumah. 
Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat Sunarsih yang cantik yang membuatnya memberanikan diri untuk masuk dan meminum kopi yang dia katakan manis walaupun sebetulnya sangat pahit.

Karena terlalu bersemangat Karta menanyakan sesuatu kepada Sunarsih yang malah menyinggung perasaan, membuatnya menangis dan berlari menuju kamar.

Ibu Sunarsih keluar untuk memantau keadaan dan kaget melihat putrinya menangis masuk ke kamarnya, seketika Darsih mengeluarkan jurus andalan. Bersiap untuk memberikan pelajaran kepada Karta tanpa ingin mendengar penjelasan karna terlalu kesal dengan sikap Karta pada Sunarsih. Pertarungan antara Darsih dan Karta sangatlah sengit, segera anak buah Karta menariknya untuk segera pergi. Hingga Karta dan anak buahnya pergi meninggalkan rumah Ibu dan anak itu.

Hari demi hari berlalu, Karta tak pernah berhenti memikirkan Sunarsih. Hatinya berbisik untuk segera menemui Sunarsih. Dan seketika Karta mempunyai ide untuk menculik Sunarsih. Karta mengajak anak buah untuk membantunya menculik Sunarsih. Namun pada akhirnya ketahuan oleh Darsih. Dan mereka kembali melakukan pertengkaran sengit dengan mengeluarkan jurus andalan untuk melawan satu sama lain.

Namun tak berapa lama Darsih dan Karta beradu jurus, Maryam datang disusul anak buah Karta yang ternyata mengadukan kejadian tersebut kepada Maryam.

Darsih terkejut karena Karta adalah anak dari sahabatnya, Maryam. Darsih berpikir macam-macam tentang tujuan Maryam menyuruh anaknya untuk datang menemui Sunarsih.

Pertarungan sengit terjadi antara Darsih dan Maryam. Tanpa bisa dicegah oleh siapapun, bahkan Karta ikut membantu ibunya melawan Darsih. 

Tiba - tiba Sunarsih berlari dan berteriak "Stop!". Sunarsih mengungkapkan perasaannya bahwa Sunarsih sudah mencintai Karta. Dan selalu terpikir tentang Karta dalam hatinya. Karta pun mengungkapkan hal yang sama.

Ternyata mereka sama-sama mempunyai perasaan nyata dalam hatinya satu sama lain. Mereka memilih untuk mengakhiri pertengkaran dan mengibarkan perdamaian di atas kisah cinta mereka.

Naskah ini berlatarkan daerah Lombok sekitar tahun 2000-an. Selain itu yang ada di dalam naskah ini, meski label maling yang cukup negatif melekat pada tokoh Karta tersebut, dalam pertunjukkan ini Raja Maling memiliki sisi yang berbeda yaitu kasih sayang dan ketulusannya kepada sang Ibu. Sehingga, secara tidak langsung memberikan amanat atau pesan tersirat kepada penonton, untuk tidak menganggap orang yang diberi label negatif oleh masyarakat itu adalah buruk sepenuhnya. Dan naskah ini juga membawa persoalan-persoalan yang ada di Indonesia saat ini. Makna maling disini pun menjadi simbol sindiran untuk beberapa masyarakat yang memang memiliki kebiasaan mengambil hak seseorang yang bukan miliknya. 

Penggunaan properti dan penataan set panggung juga lekat dengan barang-barang yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan menyesuaikan dengan tahun 2000-an. Cahaya lampu seefektif mungkin minimalis dengan dibantu adanya cahaya dari multimedia atau mapping. Berhubung naskah ini merupakan naskah komedi dengan akting realis dan set yang realis simbolis juga. 

Kostum dan penggunaan tata rias wajah dari setiap pemain juga nantinya akan disesuaikan seapik mungkin sesuai dengan peranan masing-masing dan sesuai dengan gaya busana pada latar tahun terkait.

Dalam persiapan pementasan ini, Ilham Nurinsan sebagai sutradara mengatakan bahwa seringkali mencuri-curi waktu untuk latihan secara offline dan menyeimbangi dengan jadwal kuliah para aktor dan tim produksi yang lain.

“Berhubung masih kuliah online, jadi disempat-sempatin juga untuk latihan. Meskipun kita punya kesibukan dan masalahnya masing-masing tetapi kita harus mengesampingkan ego kita dulu untuk mewujudkan pementasan yg diinginkan seperti sekarang ini. Kalau dibilang struggle pasti banyak, tetapi sebisa mungkin untuk menyisihkan waktu kosong. Meski sedikit namun bisa digunakan untuk hal yang berguna.” Tuturnya. 

Beberapa aktor yang terlibat dalam pementasan Raja Maling ini diantaranya, Reznu Altifan sebagai Karta, Zahra Putri sebagai Maryam, Afif Faturnahman sebagai Mali, Rayi Muhamad sebagai Karim, Rachel Febiuli sebagai Kasim, Anindita Margiaty sebagai Kurip, Ilham Nurisan sebagai Kutil, Syava Ika sebagai Sunarsih, Ipah Kholipah sebagai Darsih, Aprilia Pertiwi sebagai Sumi, Eka Fitriyani sebagai Warga 1, Raehana Tsania sebagai Warga 2, Pania Wulandari sebagai Warga 3, Wardah Salsabila sebagai Warga 4, Azkia Maulidya sebagai Warga 5, Dwi Hajar sebagai Warga 6, Syiha Haura sebagai Warga 7, Yuninda Dwi sebagai Warga 8, Shinta Marda sebagai Warga 9.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...