Langsung ke konten utama

Festival Teater Kampus Jakarta 2021 Dalam Bingkai Warta : Teater Meraki Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kusuma Negara


Reporter : Ahmad Daffa Baihaqi, Muhamad Aqsha 
Editor : Salsabila Rosada

Sama seperti Teater Hijau Lima Satu lalu, Teater Meraki juga menggunakan Sangar Oplet Robet sebagai tempat untuk mementaskan lakon Sarekat Djin. Walaupun tempat yang digunakan sangat terbatas, namun mereka bisa mengupayakan untuk menjadi tempat pementasan yang sangat apik.

Lakon Sarekat Djin ini merupakan karya Pinto Anugrah, M.A Dt. Rajo Pangulu, seorang penulis novel dan peneliti budaya.

Menceritakan sekumpulan bandit yang dikepalai oleh seorang bernama Patai, tidak sengaja membunuh anak dari seorang tuan Belanda bernama laras hingga memicu dendam para antek-antek Belanda kepada Patai dan para anggota bandit lainnya. Patai dan anak buahnya diburu oleh para pasukan Belanda yang mengharuskan Patai dan anggotanya bersembunyi dan menyusun strategi persembunyian yang aman. Patai dan para bandit bekerja sama dengan para pemuka adat serta tokoh politik setempat untuk mengecoh para pasukan Belanda yang murka selain untuk menyembunyikan diri dan agar tidak ada yang mengetahui rencana yang mereka susun untuk melakukan pemberontakan besar-besaran kepada pasukan Belanda.

Maudy Arti Rini selaku sutradara mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menjadikan sedikit perubahan dari naskah asli dengan pementasan yang ditampilkan.

"Yang cukup berpengaruh dalam hal ini karena keterbatasan jumlah SDM yang ada. Sebenarnya semua tokoh yang ada dinaskah adalah laki-laki. Namun karena anggota kita kebanyakan dari perempuan, maka dirombaklah supaya tokoh yang ada di dalam naskah bisa dimainkan oleh perempuan." Ujarnya.

Pertunjukan teater ini diperankan oleh Andika Achamd Fauzi sebagai Ketua Partai, Devi Maharani sebagai Ketua Bandit, Dhea Occtaviana sebagai Ketua Ulama, Maudy Artirini sebagai Ketua Adat, Novi Anzalia sebagai Nyonya Laras, Natasya Ayu Dwi Anggraini sebagai Bandit 1, Vio Mustika Kartiwi sebagai Bandit 2, Tiara Desfitriniata sebagai Opas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...