Festival Teater Kampus Jakarta 2021 Dalam Bingkai Warta : Teater Syahid Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Reporter : Ahmad Daffa Baihaqi, Muhamad Aqsha
Editor : Salsabila Rosada
Bertempat di Aula Insan Cita HMI, para penonton sudah menantikan penampilan dari Teater Syahid yang akan membawakan lakon Janger Merah. Tempat pementasan telah disiapkan sebaik mungkin. Sebelum pementasan dimulai, para aktor melakukan meditasi untuk mengumpulkan rasa dan karakter yang akan dimaikan pada saat pementasan.
2015, pembongkaran kuburan bekas korban tragedi pasca G30S dilakukan. Semuanya berjalan tanpa tangis, tanpa duka, tanpa sirat dendam. Tapi, tidak demikian dengan Srengi. Srengi, penari Janger yang juga bekas korban tragedi pasca G30S kembali teringat masa kelam itu setelah mendengar cucunya yang bernama Alit menyanyikan lagu Janger. Ditambah, kabar akan dibongkarnya kuburan bekas korban tragedi pasca G30S seakan memaksa dirinya untuk kembali mengingat tragedi itu. Ia tidak bisa melepaskan ingatan itu, meski sudah mencobanya selama 50 tahun. Tari dan lagu Janger yang dulunya sangat ia sukai, kini menjadi hantu baginya. Ia difitnah sebagai primadona gila, bintang panggung yang hilang ingatan, pelacur kaum merah, bahkan ratu leak hanya karena dirinya seorang penari janger.
Nasib teramat sial. Alih-alih dapat melupakan kejadian masa kelam itu, Srengi malah menambah kesakitan batinnya setelah mengetahui bahwa Suana (Suami kedua Srengi) ternyata ikut terlibat dalam pengeroyokan Suami pertamanya yang merupakan petinggi PKI. Srengi mengutuk peristiwa itu, mengutuk tahun itu, dan mengutuk ingatannya pada peristiwa itu.
Tidak hanya sampai disitu, strigma masyarakat kepada keluarga PKI juga menambah trauma dan ketakukan bagi keluarga penyintas G30S. Mereka mendapat tindakan diskriminasi baik sosial maupun sturktural yang membuat mereka menjauh dari lingkungan soialnya.
Di Segmen lain, Sepasang Hantu Tanpa Kepala berbicara satu sama lain, mereka membicarakan tentang kepala, tentang pemenggalan, dan tentang setengah abad kejadian itu sambil menunggu kabar pasti kapan dibongkarnya kuburan bekas korban tragedi pasca G30S. Mereka berharap dengan adanya pembongkaran itu, kepala mereka akan ditemukan.
Karena naskah ini berlatar di Bali, ornamen-ornamen khas bali akan dimunculkan seperti Pura kecil dan ukiran rumah khas Bali. Konsep musik akan ada perpaduan antara musik tradisional dan music modern. Musik-musik tradisional untuk menggambarkan budaya Bali dan kilas balik pada tahun 65. Musik modern akan digunakan untuk menggambarkan konteks fenomena-fenomena masa kini.
“Dari awal pas tau akan memerankan sosok Srengi, ya lumayan sulit. Karena jadi penari dan juga nenek tua sekaligus, mikir kayak gimana, cara jalan dan cara ngomongnya gimana. Tapi semakin lama, semakin sering baca dan mendalami naskah, pelan-pelan aku bisa nyaman sama sosok Srengi ini.” Jelas Shafna Shafira, pemeran Srengi.
Selain Shafna, naskah Janger Merah karya Ibed Surgana Yuga ini juga dimainkan oleh Ridho Hafiedz sebagai Suana, Abdul Sahri W. Sebagai Dura, Hana Nur Annisa sebagai Srengi Muda, Dimas Pratama Agung Siswanto sebagai Suana Muda, Muhamad Saepudin sebagai Tokoh Adat, Ihda F. Putri sebagai Alit, M. Ovy Royhan sebagai Hantu Tanpa Kepala, Muhammad Raihan sebagai Hantu Tanpa Kepala.
Komentar
Posting Komentar