Langsung ke konten utama

Festival Teater Kampus Jakarta 2021 Dalam Bingkai Warta : Komunitas Ranggon Sastra Universitas Indraprasta PGRI


Reporter : Ahmad Daffa Baihaqi, Muhamad Aqsha 
Editor : Salsabila Rosada 

Bengkel Teater Rendra malam itu dipenuhi penonton. Sejak siang para crew dan pemain sudah bersiap di sekitar lokasi. Komunitas Ranggon Sastra Universitas Indraprasta PGRI pada hari Jum’at, 24 September 2021 lalu itu akan mementaskan Lakon Dara, yang disadur oleh Aditya Rahman dari naskah Dara karya Bintang Pradipta. Set teater terlihat remang-remang dari tempat duduk penonton. Pementasan di buka oleh instrumen musik yang dimainkan secara langsung. 

Mengangkat kisah seorang gadis bernama Dara yang di usir dari kampung halamannya karena sebuah penyakit menular. Kemudian ia memutuskan untuk pindah ke sebuah kampung. Setibanya disana ia tidak dapat menemukan tempat untuk tidur, ditengah kebingungannya ia bertemu dengan ketua RT setempat. Dara yang sudah letih meminta izin kepada pak RT untuk singgah di gubuk yang terletak tepat di kebun milik pak RT. Karena merasa iba dan tak tega melihat gadis cantik itu, pak RT akhirnya mengizinkan Dara singgah di gubuk untuk beberapa waktu. 

Di tengah tidurnya Dara merasa ada tangan yang menyentuh tubuhnya, tangan itu mulai menggerayangi tubuh Dara yang sontak membuat Dara terkejut dan terbangun. Ia mendapati seorang laki-laki yang tak kalah kaget. Laki-laki itu tetap berusaha untuk menyentuh tubuhnya, awalnya Dara terus melawan namun tenaga laki-laki itu cukup besar hingga dara tumbang. Laki-laki itu terus melancarkan hawa nafsunya. Namun di tengah aksinya, terdengar suara yang memanggil nama lelaki tersebut. Karena hal itu ia langsung bergegas untuk mendatangi suara tersebut. Dara merasa lega karena malam itu dia tidak harus melayani pria jelek itu. Namun di dalam hatinya ia merasa sangat tidak berdaya dan bertanya tanya mengapa harus dirinya yang mengalami hal tersebut. 

Pagi hari tiba, Dara terbangun dari lelapnya dan mengumpulkan semangat untuk mengamen di sekitaran kampung. Berbekal speaker yang dikalungkan di leher dan microphone seadanya, Dara meninggalkan gubuk. Tak jauh sana, Dara melihat keramaian di warung milik warga, akhirnya Dara memutuskan untuk mengamen disana.

Ketika Dara menghampiri warung untuk mengamen, disaat itu juga ada seorang laki-laki yang menghampirinya dan menawarkan untuk bernyanyi dan berjoget bersama. Selepas asik bernyanyi dan berjoget, merekapun duduk diatas gubuk lalu Dara bercerita tentang hal yang menimpa dirinya. 

Ternyata banyak sekali lelaki hidung belang yang tertarik dengan perawakan dari seorang Dara yang membuat ia digoda dan dianggap sebagai wanita malam. Hingga akhirnya keberadaan Dara di kampung itu menjadi buah bibir bagi ibu-ibu dan para pekerja yang ada disana.

Suatu waktu seorang lelaki yang pernah mengajak Dara bernyanyi menghampirinya lagi. Namun kali ini gerak geriknya sangat berbeda, seperti ada maksud tertentu. Dan benar saja setelah mereka saling berbicara dan berdebat ternyata lelaki itu berniat dan mencoba untuk memperkosa Dara di gubuk yang ia tinggali. Spontan Dara mengambil sebilah pisau yang ia simpan di tas lalu ia tusukan pisau itu kearah lelaki tersebut. Ternyata kejadian tersebut diketahui oleh ibu warung yang kemudian berteriak meminta tolong sehingga para warga berdatangan. Darapun ditangkap karena terlihat sedang memegang pisau yang berlumuran darah. 

Akhirnya lelaki itu dibawa untuk diobati, sedangkan Dara dibawa kehadapan warga dan kepala desa, lalu ia menceritakan tentang betapa miris dirinya yang menderita traumatik atas perilaku ayah kandungnya yang memperlakukan ia dengan tidak wajar harus menerima derita dan nasib seperti ini. 

“Saya mengangkat Dara ini karena pengen ngasih tau bahwa orang yang sakit, orang yang lemah, dan orang yang sedang merasa dirinya tertindas itu seharusnya ditolong. Bukan dijauhi atau malah dihakimi. Terlebih penyakit apapun atau kekurangan apapun itu.” Tutur Muhammad Sandi Muamarar Ravi, sutradara. 

Aktor dan aktris yang ikut andil dalam lakon Dara ini adalah Fatimah Jaroh sebagai Dara, Luthfi Nur H. sebagai Kala, Aditya Rahman H. sebagai Khuntara, Azka sebagai Ular, Khotimah sebagai Ular, M. Ikhsan Fatih sebagai Warga, Khotimah I. sebagai Warga, Syabilla sebagai Warga, Riana sebagai Warga, Azka Kamila sebagai Warga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...