Langsung ke konten utama

Festival Teater Kampus Jakarta 2021 Dalam Bingkai Warta : Teater Krayon Universitas Kristen Indonesia

Reporter : Ahmad Daffa Baihaqi, Muhamad Aqsha 
Editor : Salsabila Rosada 

Suasana di tempat pementasan malam itu sesak penonton yang didominasi oleh anak-anak kecil, mereka tinggal di daerah sekitar. Ya, banyak anak kecil yang hadir menikmati penampilan Teater Krayon Universitas Kristen Indonesia. 

Komunitas ini mencetuskan sebuah ide kreatif dalam pementasan. Sebidang tanah di pemukiman warga, disulap  menjadi set teater, panggung kecil khas hajatan, serta penonton duduk lesehan menikmati penampilan. 

Keluarga Mochtar karya Bintang Kichi Emzita adalah judul yang akan mereka tampilkan malam itu. 

Menceritakan sebuah fragmen dalam kehidupan keluarga kelas menengah atas di ibukota. Edi Moechtar, sang kepala keluarga telah tiada pada tahun 2007, meninggalkan sang istri, dua anak laki-laki, satu anak perempuan dan seorang cucu. 

Sepeninggalan Pak Edi, anak-anak beliau berembuk untuk membicarakan warisan. Bilqis sebagai anak sulung mengumpulkan kedua adiknya, Teddy dan Beni. Konflik utama muncul dari persoalan warisan yang tidak menimbukan kesepakatan. Beni menolak menjual rumah yang menjadi bagian dari warisan, dikarenakan ibu mereka sedang sakit yang saat itu butuh perawatan dan tidak bisa dipindahkan ke rumah yang lebih kecil. 

Rubiah Moechtar yang diperankan oleh Sela Melinda, adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah cukup tua. Selama menikah dengan Edi, Rubi terampil mengurus perihal keuangan dan rumah tangga, meskipun ia selalu berdiri di belakang segala keputusan suaminya. Dalam hal lain, Rubi sangat memanjakan ketiga anaknya. 

Ketiga anak Edi dan Rubi adalah Bilqis Moechtar si anak tertua yang diperankan oleh Issuwari Tambunan, Teddy Moechtar yang diperankan oleh Alan Gregory Umboh sebagai anak kedua, dan si anak terakhir, Beni Moechtar yang diperankan oleh Yeremia Richardo Natitupulu. 

Semasa tumbuh, Bilqis dan Teddy lebih sering tinggal terpisah dari orang tuanya di asrama atau bersama kerabat keluarga, yang akhirnya memberi kesan kalau keduanya seperti ditirikan meski memiliki keluarga kandung. Sedangkan si bungsu Beni, berbeda dengan kedua kakaknya. Ia tidak pernah terpisah dari kedua orang tuanya hingga masa kuliah yang ia tempuh di Jogja.  

Saat remaja, Bilqis cukup nakal namun tidak pernah membantah papanya. Dan jika dibandingkan dengan bilqis, masih ada Teddy lebih bengal. Karena semasa mudanya, ia terlibat dengan aktivisme dan kini dikenal sebagai intelektual ternama. Ia juga merupakan anak yang paling karismatik dan tampan serta gemar bermain wanita. 

Kehidupan anak-anak di keluarga Moechtar inipun berlanjut ke jenjang pernikahan mereka. Bilqis menikah pada tahun Welly, pacar sejak ia berkuliah di Amerika. Namun sayangnya, pernikahan mereka tidak dikaruniai anak.  Dan berakhir dengan perceraian. Lain hal dengan Teddy yang memilih untuk tidak pernah menikah. Sedangkan Beni, pada saat berkuliah, ia bertemu dengan Diana, yang umurnya lebih tua 2 tahun darinya. Begitu lulus kuliah, keduanya langsung menikah dan pindah ke Jakarta untuk tinggal bersama orang tuanya. Namun Beni kurang peka untuk menyadari ketidakbahagiaan istrinya, hingga akhirnya istrinya berselingkuh.  

Akhirnya kita sampai dibagian paling rumit dari pementasan ini. Perihal istri Beni yang selingkuh. Sosok Mediana Dwi Drupadi yang diperankan oleh Tasya Avrielia, merasa bahwa pernikahannya dengan Beni tidak membuatnya bahagia. Ketidakpuasan ini mendorong Diana untuk dekat dengan Teddy, kakak iparnya sendiri, yang memiliki segala hal yang luput dari Beni. Kemudian perselingkuhan ini berujung pada kehamilan Diana. Teddy memutuskan untuk bertanggungjawab secara finansial dan mendukung apapun keputusan Diana, baik mempertahankan ataupun menggugurkan kandungannya.

Namun di sisi lain, Diana dibebani rasa bersalah karena telah memecah belah keluarga. Akhirnya Diana memutuskan untuk pergi dan membesarkan anaknya sendirian. Di tahun itu juga ia resmi bercerai dengan Beni. Sedangkan nasib Teddy, ia diusir dari keluarga Moechtar. Dan Beni terus berlanjut mengurus ibunya sendirian. 

“Kendala awal dalam lakon Keluarga Moechtar ini sebenernya karena kami kekurangan SDM. Walaupun awalnya sudah cukup orang, tetapi ternyata di kemudian hari banyak yang pulang kampung, mengingat mahasiswa/I di UKI ini banyak yang dari luar kota. Akhirnya yang kami seleksi menjadi aktor dan aktris hanya anak-anak yang ada di Jakarta saja.” Ungkap sang sutradara, Sela Melinda. 

Alan dan Tasya yang berperan sebagai Teddy dan Diana juga mengaku kesulitan dalam proses memerankan tokoh masing-masing pada pementasan ini. Karena kepribadian tokoh yang sangat berbandingterbalik dengan sifat asli mereka sebagai aktor. Kendati demikian, mereka cukup puas dan bersyukur dengan apa yang mereka sudah tampilkan hari itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...