Langsung ke konten utama

Festival Teater Kampus Jakarta 2021 Dalam Bingkai Warta : Teater Hijau Lima Satu Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Reporter : Ahmad Daffa Baihaqi 
Editor : Salsabila Rosada 

Masih dalam gelaran Festival Teater Kampus Jakarta 2021, setelah pembukaan pementasan yang dibawakan oleh Teater Zat, pementasan selanjutnya ditampilkan oleh Teater Hijau Lima Satu yang merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Pembangunan Negeri Veteran Jakarta. Pementasan ini diadakan di Sanggar Oplet Robert pada Jum’at, 17 September 2021 lalu dengan lakon Janger Merah. 

Lakon Janger Merah menceritakan tentang sebuah dusun kecil dimana tumbuh suatu rumah di Bali, yang masing-masing tokoh di rumah tersebut memiliki ideologi yang sangat kuat sehingga ideologinya sering berbenturan dengan setiap tokoh di dalamnya. Kehadiran senjata tradisional membuat pertengkaran dan perselisihan di dalam rumah tersebut, serta masyarakat yang resah akan keadaan kuburan yang tidak berada di tempat semestinya. Masyarakat selalu dibayangi oleh kehadiran hantu membuat resah masyarakat sekitar terhadap kegiatan sehari-harinya. 

Konsep pementasan ini menonjolkan ciri khas suku Bali. Seperti Tarian Bali yang dimainkan dengan cara modern dengan nuansa warna merah yang memiliki makna berani dalam mengambil sikap. Sikap yang dimaksud adalah sikap masyarakat Jembrana dalam menghilangkan kasus-kasus kematian yang ada di desanya. 

Dhandy Yusuf selaku sutradara mengatakan bahwa seorang sutradara dituntut untuk mempunyai gagasan sendiri. 

“Kita hidup sebagai manusia hidup untuk saat ini, kita harus jalani saat ini, jangan memiliki pemikiran ketakutan dan pengalaman dimasa lalu. Karena tiga hal itu yang gak membuat maju hidup.”  jelasnya. 

Beberapa aktor yang terlibat dalam pementasan ini diantaranya, Klara Kristi sebagai Srengi, Dhandy Yusuf sebagai Suana, Trisna Wahyu sebagai Dura, Rhaina Al Yasin sebagai Srengi Muda, Ainul Bhariyah sebagai Arini, Risa Farah sebagai Hantu Tak Berkepala, Ananda Sausanti sebagai Hantu Tak Berkepala, Auliazikry sebagai Alit. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...