- FITRI DINILLAH
- ALIFAH FAUZIAH
- MIQDAD ZEINNUR AHMAD
Seminar
ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
(HIMA KPI UIA) pada Selasa (10/7) kemarin di Aula lt. 8 Gedung Alawiyah
Universitas Islam As-Syafi’iyah, Jakarta. Seminar yang mengangkat tema “Dampak
Media Bagi Masyarakat : Dialog Peran Media Jelang Pilpres 2019” ini cukup
menyita perhatian publik dengan tema yang dinilai relevan dengan moment di
Indonesia saat ini. Turut hadir dalam acara ini Abdul Kohar (Pemimpin Redaksi Medcom.id),
Elba Damhuri (Head of Republika.co.id) dan Gun Gun Heryanto (Dosen
Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) sebagai pembicara. Turut
hadir Hj. Syifa Fauzia selaku Wakil Rektor III UIA, Dr. Ilyas Ismail selaku
Dekan FAI UIA serta jajaran dosen yang turut menghadiri acara tersebut.
Acara
dimulai dengan sambutan ketua pelaksana, Ahmad Ghufron. “Acara ini dilaksanakan
agar kita sama-sama mengetahui, apa dan bagaimana fungsi media yang seharusnya
dalam kancah perpolitikan Indonesia. Dan tentunya, sikap media dalam mengawal
kebebasan berdemokrasi di Indonesia.” tegas Ghufron dalam sambutannya. Lalu
acara ini juga dibuka oleh Dekan FAI UIA, Dr. Ilyas Ismail. “Saya sangat
mengapresiasi acara ini, terutama kepada panitia HIMA KPI. Saya memandang ini
adalah sebuah bentuk uswah hasanah yang harus dicontoh oleh HIMA-HIMA
yang lain kedepannya.” ujar Beliau saat diwawancara oleh tim LPM UIA.
Acara
dipandu oleh moderator yang juga merupakan dosen Jurnalistik di KPI, Ahmad
Fausih. Beliau memberi kesempatan pertama kepada Abdul Kohar untuk menyampaikan
materinya. “Media itu tidak harus netral. Misalnya begini, kalau ada sebuah
berita tentang kejahatan, media akan memihakkan konten berita kepada kebenaran.
Ini artinya, media tidak netral. Jadi, sah-sah saja kalau media tidak netral,
asalkan independen.” papar beliau. Beliau menambahkan bahwa berita-berita yang
terdapat di media mainstream saat ini pun masih sesuai dengan koridor
aturan siaran yang ada. “Tidak sembarangan kita bisa memberitakan dalam siaran.
Kalau kita ketahuan melanggar, akan dapat peringatan dari KPI (Baca: Komisi
Penyiaran Indonesia). Bahkan bisa dibubarkan kita.” tegasnya. Beliau juga
menyayangkan sikap masyarakat yang cenderung mudah tersulut oleh isu-isu yang
provokatif. “Kita perlu meningkatkan literasi, agar mengurangi perdebatan dan
prasangka kepada berbagai pihak dalam hal apapun.”
Lain
halnya dengan Elba Damhuri. Beliau membongkar habis permasalahan yang terjadi
saat Pilkada DKI 2017 kemarin. “Dibalik hingar bingar media sosial di Pilkada
2017 kemarin adalah persaingan bisnis.” papar Beliau. “Ini bukan perang
ideologi ataupun agama, tapi ini adalah perang bisnis.” Menjamurnya buzzer kemarin
adalah bukti bahwa bisnis menjadi motif utama dalam “perang” media sosial
tersebut. “Misalnya dia jadi buzzer untuk paslon A. Belum tentu pada
hari H ia memilih paslon tersebut.” tegas beliau. Selain itu, Beliau juga
mengangkat permasalahan pemilu di Amerika 2016 kemarin. “Pada saat ajang pemilu kemarin, bisa dilihat ada banyak
media yang berpihak kepada Hillary (Hillary Clinton). Namun, suara tetap bulat
untuk Donald Trump.”
Setelah
itu, Gun Gun Heryanto memaparkan materinya. Beliau menjelaskan tipe-tipe
pemilih di Indonesia. Ada pemilih yang sosiologis, ada pemilih yang psikologis,
dan ada pemilih yang rasional. “Kita beruntung kalau mayoritas pemilih itu
rasional. Ada pemilih yang di wilayah sosiologis, artinya ia masih terpengaruh
oleh isu primordialisme, SARA. Ada juga yang di wilayah psikologis, misalnya
karena saya partai ini dan ini maka saya pilih partai ini. Kalau rasional, ia
mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi, dan sebagainya.” Beliau juga menegaskan
pentingnya literasi bagi masyarakat Indonesia, agar masyarakat lebih rasional
dalam menentukan pilihan nantinya.
Dalam
kesempatan lain, Ahmad Fausih selaku moderator acara mengapresiasi acara ini.
“Acara yang sangat bagus. Saya mengapresiasi teman-teman panitia yang sudah
menyelenggarakan acara ini dengan mendatangkan para pakar dalam bidangnya
masing-masing.” ujar Beliau. “Mungkin untuk evaluasi kedepannya untuk
teman-teman HIMA dalam segi acara, baik itu persiapan, teknis acara, maupun rundown
agar menjadi perbaikan untuk kedepannya.” lanjut Beliau.
Semoga
diskusi-diskusi seperti ini menjadi lebih sering dilakukan dan dijamahi oleh
mahasiswa-mahasiswa di kampus kedepannya. (ed: Gufron)
Komentar
Posting Komentar