Langsung ke konten utama

FKIP UIA Goes to Singapore and Malaysia


  • ALIFAH FAUZIAH
  • MIQDAD ZEINNUR AHMAD

2 Juli 2018 menjadi hari yang tak mungkin terlupakan bagi mereka. Pasalnya, hari itu menjadi new experience sekaligus new journey bagi mereka karena berkesempatan untuk mengunjungi dua negara di Asia Tenggara yang menjadi destinasi wisata favorit mancanegara, Singapura dan Malaysia. Mereka adalah Amelia Nurdiansyah, Dira Mega Ayu, Nur Aprialita, Farah Azizah, Narti Aminah, Stefani Arbella, Fauziah Rizqyana Dian Rosmawati, dan Maulana Subhan. Mereka merupakan mahasiswa semester 6 dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UIA yang berkesempatan mengunjungi dua negara anggota ASEAN tersebut. Namun, bukan sekedar kunjungan biasa atau liburan semata, melainkan mereka berkesempatan ikut berpartisipasi di acara ASEAN Youth Culture Exposure (AYCE) 2018 yang diselenggarakan oleh Youth Center To Act Nation atau yang dikenal dengan YOUCAN.
“Secara garis besarnya, itu acara anak muda, di mana disitu kita belajar tentang budaya di sana, bagaimana sosialnya orang-orang disana, dan tentunya banyak hal yang dipelajari yang nggak kita dapat di Indonesia itu sendiri.” papar Amel, yang juga merupakan Ketua BEM FKIP UIA 2018. Saat ditanya soal goals dari acara ini, Amel memaparkan bahwa kita sebagai generasi muda harus menjadi agent atau duta bagi budaya negara kita sendiri, dan tentunya kita menjadi lebih aware terhadap budaya dari luar, terutama budaya Negara Singapura dan Malaysia.
Mereka pun bukan sembarangan bisa berpartisipasi dalam acara ini. “Kita dapat link dari salah satu dosen kita yang sangat support kami untuk go international. Setelah itupun, kita harus membuat paper untuk keperluan seleksi ke tahap selanjutnya. Paper yang kami angkat kemarin adalah tentang budaya Jawa. Menurut kami, budaya Jawa adalah budaya yang lebih mengena di hati kami dan basically, kami semua adalah orang Jawa.” lanjutnya dengan penuh antusias. Mereka pun merasa sangat senang dan bersyukur kepada semua pihak yang telah mendukung mereka untuk bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Mereka pun berterima kasih kepada pihak fakultas maupun universitas yang telah mendukung mereka semaksimal mungkin. “Kita pun senang bisa dapet beasiswa 2 semester sama hadiah dari kampus”. Namun, mereka juga memiliki catatan kecil bagi semua pihak, terutama univeritas. “Mungkin kalau boleh jadi evaluasi kedepannya, seharusnya pihak kampus lebih mendorong mahasiswanya untuk lebih berani berprestasi. Jadi tidak ada lagi istilah “Mahasiswa memohon kepada kampus” nantinya.” tegasnya. “Seharusnya, kampus lebih memperjelas sikapnya untuk mendukung penuh mahasiswa-mahasiswanya. Misalnya dengan membuat lembaga penampung aspirasi, atau sebagainya yang nantinya akan menjadi jembatan bagi mahasiswa, yang diwakili oleh BEM dengan pihak universitas.”
Sebagai motivasi, Amel dkk berpesan kepada teman-teman mahasiswa lainnya untuk selalu belajar yang giat dan konsisten. “Perbanyak cari informasi dari luar kampus, belajar sesuai passion masing-masing, kerja keras, semangat dan komitmen! Dan yang paling penting, kuliah di swasta bukan menjadi alasan untuk tidak berani lebih (berkembang) daripada kuliah di negeri. Do your best. Allaah with us!”. (ed: Gufron)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...