Langsung ke konten utama

FAI UIA “Merajai” Lomba Pidato di UHAMKA






  • AHMAD GUFRON
  • MIQDAD ZEINNUR AHMAD
Kabar gembira datang dari mahasiswa Fakultas Agama Islam yang pada Rabu (18/7) telah mengikuti lomba pidato Bahasa Arab yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (HIMA PAI) di UHAMKA Jakarta. Mereka adalah Raden Suken Mohammad Hafidz, mahasiswa semester 4 jurusan Pendidikan Agama Islam, dan Halimahtus Sa’diah, mahasiswi semester 4 jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Masing-masing dari mereka mendapatkan juara 2 dan 1 di kategori lomba pidato Bahasa Arab. “Seneng pastinya. Awalnya niatnya cuma mau mencari pengalaman aja, soalnya ini pertama kalinya saya ikut. Tapi nggak disangka bisa dapat juara.” papar Raden, yang juga merupakan Ketua UKM Lembaga Dakwah Kampus (LDK UIA) 2018. Senada dengan Raden, Halimah pun merasa kaget sekaligus senang dengan hasil tersebut. “Speechless ya waktu itu. Karena dari awal saya mikir mana mungkin sih perempuan bisa menang dari laki-laki. Cuma sebagai peremuan, kita harus mencoba untuk nggak boleh kalah dari cowok. Alhamdulillaah terbukti.” ujar Halimah penuh semangat.
Saat ditanya soal motivasi mengikuti lomba tersebut, keduanya menjawab hal yang sama, “orang tua”. “Motivasi pertama saya orang tua. Saya memberitahu mereka untuk ikut lomba. Mereka pun mendukung dengan kemampuan yang saya dapat sewaktu di pesantren dulu. Saya makin yakin untuk mengembangkan apa yang sudah saya dapat dulu.” papar Raden. “Awalnya saya nggak memberi tahu orang tua, karena takut kalah. Ketika udah menang, baru saya mengabari mereka.” sahut Halimah. Sebelumnya, mereka memang tidak memberi tahu pihak universitas kalau mereka akan mengikuti perlombaan ini, karena memang mereka berinisiatif untuk mengikuti lomba tersebut secara mandiri, namun tetap membawa nama universitas. “Alhamdulillaah dapat respons yang baik dari kampus. Memang sebelumnya belum sempat komunikasi dengan kampus. Tapi mereka merespons baik dengan hasil kami ini.” ujar Raden. “Apresiasi kampus cukup baik. Kami juga dipanggil Dekan dan Kaprodi. Kalau untuk kedepannya sih kita belum tahu apa lagi.” lanjut Halimah.
Namun, mereka juga menyayangkan sikap kampus yang masih terlihat “setengah hati” dalam mendukung mahasiswanya untuk berprestasi. “Sebenarnya respons kampus masih kurang ya. Menurut saya, kalau bisa dibicarakan untuk mencari solusinya, misalnya mendampingi saat lomba ataupun mengoreksi teks pidato untuk lomba. Namun yang saya lihat kenyataannya masih kurang.” ujar Raden. Namun, mereka mampu membuktikan diri untuk bisa “unjuk gigi” walaupun dalam kondisi kurangnya dukungan dari berbagai pihak. Mereka juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang sudah mendukung mereka untuk mengharumkan nama universitas di luar.
Tak lupa, mereka berpesan kepada mahasiswa-mahasiswa lainnya untuk mengikuti jejak mereka. “Pastinya mencoba, coba, dan coba. Kalaupun gagal, coba lagi dan lagi sampai kita menemukan keberhasilan. Untuk mencapai titik ini pun saya sudah berulang kali melewati kegagalan.” tegas Halimah. Senada dengan Halimah, Raden pun menyampaikan hal yang sama. “Kalau kalian (mahasiswa) punya bakat ataupun kemampuan, salurkan! Kalian nggak usah berpikir kampus ini akan support atau bagaimana. Kalian nggak usah berpikir kalian akan menang atau tidak. Action, action, and action!”.
Sekali lagi, selamat kepada Halimah dan Raden. Semoga tidak larut dalam euforia yang berkepanjangan. Congratulation! (ed: Gufron)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...