Langsung ke konten utama

Festival Teater Kampus Jakarta 2021 Dalam Bingkai Warta : Teater Kipas KMUP Universitas Pancasila


Reporter : Ahmad Daffa Baihaqi, Muhamad Aqsha 
Editor : Salsabila Rosada 

Pada Sabtu, 18 September 2021 lalu, bertempat di Gedung Serbaguna Universitas Pancasila, Unit Kegiatan Mahasiswa Kita Pancasila Satu (KIPAS) Keluarga Mahasiswa Universitas Pancasila menampilkan lakon Kawin Toa yang merupakan salah satu pementasan dalam gelaran Festival Teater Kampus Jakarta 2021. 

Kawin Toa merupakan karya seorang Rano Sumarno, yang pada pementasan kali ini disutradarai oleh Selfiana. 

Menceritakan tentang Elang, seorang mahasiswa yang aktif mengikuti demonstrasi membela keadilan. Ia memiliki kekasih yang bernama Kokom. Semula hubungan Elang dan Kokom berjalan dengan baik, sebelum mengetahui pekerjaan babeh Kokom yang ternyata seorang bos demo bayaran. Dimana sangat bertentangan dengan aksi demonstrasi yang dilakukan Elang untuk membela keadilan. 

Pada demo lokalisasi dan penolakan kenaikan BBM, antara kawanan demo bayaran dan golongan mahasiswa, bertemulah Elang dengan Babeh. Elang tetap melakukan orasi walaupun mengetahui bahwa Babeh lah yang memimpin pendemo bayaran tersebut. Kawanan pendemo bayaran tidak setuju dengan orasi yang disampaikan Elang, begitu pun dengan Babeh.

Maka, terjadilah bentrok di antara dua kubu tersebut. Di tengah-tengah terjadinya bentrok, datanglah Kokom merebut toa yang dipegang Elang untuk berdebat dan melerai kedua kubu. Namun, kedua kubu tetap bentrok sehingga Kokom pingsan. Elang membawa Kokom yang pingsan menjauhi massa dan meneriaki Kokom supaya terbangun.

Akhirnya, saat Kokom sadar dari pingsannya, ia memberi pesan bahwa yang harus dibela adalah keadilan. Babeh pun tersadar maksud dari Elang, Kokom, dan mahasiswa pendemo. Massa pun sekarang bersatu untuk membela keadilan. Dan hubungan Kokom dengan Elang pun direstui oleh Babeh dengan melanjutkan ke jenjang pernikahan. 

Menurut pengakuan dari sang sutradara, Selfiana mengaku kalau jalan cerita ini memang sedikit melenceng dari naskah aslinya. 

"Kebetulan jumlah aktor dan aktris kami terbatas. Sedangkan di naskah aslinya, pemain berjumlah lebih banyak dari yang kami punya. Maka dari itu, saya ubah sedikit jalan ceritanya menjadi versi 'Kipas' guna mempermudah para pemain dalam melakukan pementasan ini." ungkapnya.

Sama seperti pementasan-pementasan sebelumnya, pandemi menjadi kendala yang paling besar, seperti tidak dapat izin orangtua untuk latihan di kampus. Walaupun beberapa kali telah diadakan latihan online, namun hasilnya kurang efektif. 

Beberapa aktor yang ikut dalam pementasan ini diantaranya, Jarek Egi Prasetyo sebagai Elang, Yunika Indah Cahyani sebagai Kokom, Mayer Roland Ferdiansyah sebagai Babeh, Nadia Nurul Nashihah sebagai Siti, Kaniya Tarani sebagai Bu Ulis, Chelsea Laksmitaning Lintang sebagai Bu Susah, Firdha Laila Putri sebagai Mbak Vaginawati dan Naufal Nurfawzi sebagai Penghulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...