Langsung ke konten utama

Opening UIA KEREN FESTIVAL 2019


Pada Sabtu (23/03) Duta Universitas Islam As-Syafi'iyah menyelenggarakan Pembukaan Acara "UIA KEREN FESTIVAL 2019" yang selanjutnya diikuti pelaksanaan acara tersebut. Pembukaan ini dihadiri oleh beberapa petinggi kampus yaitu Rektor UIA, Wakil Rektor I dan III, Kepala Penerimaan Mahasiswa baru, Kepala Biro Akademik, serta beberapa dosen dan peserta acara tersebut. Juga turut serta perwakilan dari BEM KBM UIA, dan MPM UIA.

Selaku Ketua Pelaksana, Rifki Ramadhan mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran dan partisipasi seluruh pihak yang terlibat dalam acara ini. Acara yang diadakan oleh Penmaru, DUTA UIA dan beberapa Organisasi Mahasiswa dan UKM. "Harapannya semoga dengan diadakannya acara ini dapat menambah rasa persaudaraan dan solidaritas antar Mahasiswa UIA." ujarnya.

Kepala Penmaru, Hayat Zainuni, S.H juga menambahkan "Ini adalah sebuah langkah awal, memang masih sederhana tapi harapannya agar kedepannya bisa membuat acara yang lebih keren dan lebih besar lagi."

Acara ini pun mendapat apresiasi dari Rektor, Warek I dan III. Menurut Warek III, Syifa Fauzia, M.Art, acara ini memiliki inisiasi yang bagus, ada banyak lomba-lomba yang dislenggarakan. Di acara sebelumnya, DUTA UIA juga menyelenggarakan acara untuk eksternal kampus yang target pesertanya adalah SMA sederajat. Semoga kedepannya DUTA UIA terus semangat dalam mensyiarkan kampus dan bisa mengadakan acara lainnya yang nantinya bekerja sama dengan melibatkan setiap elemen civitas akademika untuk terciptanya suasana kampus yang aktif dan produktif."

©️ Katuara, Lembaga Pers Mahasiswa UIA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...