Langsung ke konten utama

BEM SE-JABODETABEK Gelar Aksi "Kartu Merah Jokowi-JK" Di Depan Istana


Pem : Ahmad Gufron
Reporter : Rahmi Nur Amalia

BEM SE-
JABODETABEKA-BANTEN mengadakan aksi turun ke jalan yang mereka sebut "Kartu Merah rezim Jokowi-Jk atau Rezim Nawacita" pada Senin (4/3). Menurut salah satu peserta aksi yang ikut kemarin, aksi ini merupakan sebuah bentuk kekecewaan terhadap rezim saat ini.

"Pemerintah Jokowi-JK atau Rezim Nawacita pada tahun 2014 yang lalu (read “Pra Pemilu 2014) begitu meyakinkan lewat visi-misi dan janji-janji kampanyenya yang ditawarkan kepada rakyat, bahwa akan membenahi negara dan bangsa ini menjadi negara Super Power di Asia Tenggara. Namun pasca dilantiknya mereka tak ubahnya seperti para penguasa yang tiran." tegasnya.

Ia juga menambahkan, begitu banyak persoalan yang belum terselesaikan hingga jelang akhir periode ini.

"Berbagai persoalan yang terjadi di republik ini tanpa terselesaikan dengan baik, kami sangat menyadari bahwa bangsa indonesia merupakan bangsa agraris dengan luas lahan pertanian kita menurut BPS tahun 2018 7,1 Juta Hektar dengan potensi hasil produksi beras secara Nasional 3,5 Juta ton dalam 1 bulan, sedangkan konsumsi beras secara nasional 2,5 juta ton dalam 1 bulan. Artinya kita masih mempunyai cadangan beras 1 juta ton dalam satu bulan, di sisi lain."

Aksi ini sempat diwarnai ketegangan akibat mahasiswa yang mendesak mendekat ke istana. Namun aksi pun dapat kembali berjalan damai dan diakhiri oleh gimmick kartu merah dan pembakaran ban oleh mahasiswa sebagai bentuk kekecewaan karena tidak bisa bertemu dengan pihak istana.

Para mahasiswa berharap tidak adanya ketimpangan informasi tentang kebijakan-kebijakan pemerintah, baik yang berhasil maupun gagal, meskipun sudah mendekati pemilu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...