Langsung ke konten utama

#PerspektifKatuara Gedung Alawiyah Mulai Lapuk




Gedung Alawiyah adalah salah satu gedung tertua yang pernah dibangun di daerah Jatiwaringin, Pondok Gede. Dibangun sejak 1980-an, gedung ini menjadi satu-satunya gedung yang diizinkan dibangun dengan tinggi, dikarenakan jaraknya yang begitu dekat dengan Bandar Udara Halim Perdana Kusumah.

Namun sayang, dalam perkembangannya gedung ini mulai mengalami pelapukan. Mulai dari peretakan di beberapa sisi gedung, hingga runtuhnya beberapa puing gedung. Puncaknya, beberapa puing berjatuhan di area belakang Gedung Alawiyah pada pekan lalu. Hal ini menyebabkan kekhawatiran di kalangan civitas kampus. Menanggapi hal ini, tim redaksi Katuara UIA mencoba menyambangi Asisten Kepala Rumah Tangga UIA, Isroil, pada Rabu kemarin (30/1).

Isroil
Asisten Rumah Tangga UIA

Menanggapi runtuhnya beberapa puing gedung kemarin, respon seperti apa yang sudah dilakukan pihak kampus?

"Dalam hal ini, kami sudah berkoordinasi dengan pimpinan dan akan segera ditangani dalam waktu dekat. Untuk antisipasi sementara, kami sudah memasang garis keamanan di sekitar area jatuhnya puing."

Penyebab runtuhnya beberapa puing?

"Beberapa hari lalu ada angin kencang pasca tsunami Banten. Itu (list cat gedung -red) tidak direkat semen, hanya ditempel biasa saja ya. Harusnya sudah dibongkar, karena sudah lama."

Kapan renovasi terakhir gedung?

"2010 ya waktu itu. Waktu itu belum ada lem perekat seperti sekarang."

Kendala untuk melakukan renovasi?

"Tidak semudah itu untuk mengerjakannya. Kita membutuhkan alat-alat, lumayan lah. Katakan lah kita memperbaiki 1 ember, untuk biayanya bisa mencapai 20 ember. Karena itu juga harus memerlukan steiger beksiting yang tinggi. Itu juga tidak cukup 1 atau 2, bisa sampai 40-50 buah."

Tindak lanjut pihak kampus terhadap runtuhnya beberapa puing gedung?

"Kemarin puing yang jatuh kurang lebih 30 cm. Ini sudah saya laporkan kepada pimpinan. Beliau (Kepala Rumah Tangga UIA -red) juga sudah mengagendakan, namun menunggu moment yang tepat. Mungkin saat libur ini."

Renovasi diagendakan saat libur kali ini?

"Akan ada action saat libur ini. Beliau juga sudah menyampaikan pada saat di forum, baik itu rapat pimpinan maupun rapat internal. Namun sementara ini, kami memasang garis keamanan terlebih dahulu untuk mencegah kejadian lainnya."

Joni Tanjung, Wakil Presiden Mahasiswa BEM KBM UIA

Bagaimana tanggapan BEM U mengenai runtuhnya beberapa puing Gedung Alawiyah?

"Sebenarnya masalah infrastruktur kampus selalu kami sampaikan kepada Ibu Syifa sebagai Wakil Rektor 3. Bahkan sebelum MTMB 2018, BEM U sudah menyampaikan kepada para pimpinan kampus bahwa Gedung Alawiyah ini udah harus dicat ulang."

Langkah seperti apa yang akan dilakukan oleh BEM U menanggapi hal ini?

"Pihak BEM U insya Allah dalam hal ini akan menjadi jembatan mahasiswa untuk menyampaikan keluh kesah mahasiswa terkait permasalahan infrastruktur di kampus. Baik gedung yang harus di renovasi, Cat Kampus yang sudah memudar dan harus di cat ulang, lift kampus, AC di ruangan kelas yang banyak tidak berfungsi. Insya Allah kami akan mengadakan audiensi dengan pihak pimpinan kampus, dan membuka ruang kepada teman-teman mahasiswa yang ingin mengikuti audiensi tersebut."

Kapan audiensi akan dilakukan?

"Insya Allah kita akan mengadakan audiensi pada awal masuk semester genap. Dalam hal ini, saya juga meminta kepada temen BEM Fakultas untuk bersama-sama bersinergi, bersama-sama menanggapi permasalahan yang terjadi di kampus tercinta kita ini. Karena permasalahan yang ada di kampus tidak akan tuntas jika kita hanya diam saja."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...