Langsung ke konten utama

#WhatTheySay Gedung Alawiyah Mulai Lapuk




Runtuhnya beberapa puing Gedung Alawiyah tentu menyisakan banyak kegelisahan bagi civitas UIA. Apa kata mereka soal ini?

Rangga
FAI - Semester 3
"Mengenai masalah dinding gedung alawiyah yang sudah mulai runtuh dan keropos. Sejujurnya saya tidak terlalu memperhatikan, menurut saya bagus adanya lpm ini yang memperhatikan kemajuan kampus. Dalam masalah ini saya berpendapat bahwa masalah ini harus cepat di tuntaskan karena berbahaya untuk mahasiswa yang berlalu lalang di sana. Mungkin setelah masalah ini saya mengusulkan juga agar lift di gedung alawiyah cepat di perbaiki, karena itu pun berbahaya bagi warga kampus yang setiap harinya menggunakan fasilitas lift."

Yasir
FAI - Semester 3 
"Dalam masalah ini saya pun memperhatikan bahwa dinding gedung alawiyah pun runtuh. Saya sudah melihat sedikit sikap dari pihak kampus untuk mengantisipasi masalah ini, seperti contohnya memindahkan keran air yang biasa digunakan warga kampus untuk berwudhu yang terletak di bawah dinding yang runtuh. Saran saya pada pihak kampus agar segera di perbaiki sebelum memakan korban jiwa."

Diantama wahyu alfiani
FEB - Semester 5

"Menurut saya, insfrastuktur adalah indikator keunggulan kampus apalagi gedung alawiyah inilah yang paling terlihat dari berbagai sisi di jatiwaringin ini sebagai Assyafiiyah. Dari jarak 1 km kanan dan kiri gedung ini sudah terlihat sangat usang, sangat tidak menjual apalagi sebentar lagi akan datang mahasiswa baru.
Seharusnya lebih baik perbaharui gedung alawiyah ini terlebih dahulu dari pada gedung rektoriat yang sebelum ini pun masih bagus, karena yang terlihat sebagai Universitas Islam Assyafiiyah adalah gedung Alawiyah ini bukan gedung rektoriat. 
Saya berharap Sebelum masuk tahun ajaran baru, gedung alawiyah ini sudah diperbaharui." (Redaksi Katuara UIA)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...