Langsung ke konten utama

Pelantikan Kepengurusan BEM FAI UIA Periode 2018-2019

Pelantikan Kepengurusan BEM FAI UIA Periode 2018-2019

Pem : Ahmad Gufron
Reporter : Reyhaanah, Miqdad Zeinnur Ahmad

BEM - U resmi melantik kepengurusan baru BEM FAI UIA periode 2018-2019 pada Senin (05/11) di Lantai 2 Gedung Abdullah Syafiie. Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan dan Wakil Dekan FAI. Acara inti yaitu pembacaan Surat Keputusan oleh Wakil Dekan FAI, Neneng Munajah.

Dekan FAI, Ahmad Ilyas Ismail dalam sambutannya mengharapkan BEM FAI agar lebih baik kedepannya.

"Semoga BEM FAI kini lebih baik dari tahun kemarin dan dapat bersaing tidak hanya dengan BEM Fakultas saja atau BEM U saja, tapi sampai ke BEM seluruh Indonesia." katanya dalam sambutan.

Reza Maulana, Ketua BEM terpilih mengucapkan rasa terima kasih, karena ini sebuah amanah yang besar menjadi ketua BEM FAI. Ia berharap BEM FAI menjadi lebih baik dari sebelumnya dan dapat bersinergi dengan BEM lain agar dapat mengharumkan nama Universitas Islam As-Syafi'iyah diluar sana.

"Adapun program pertama yang akan dilaksanakan yaitu Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa, karena ini merupakan program keseluruhan. Insya Allah juga dalam waktu dekat ini kami akan mengadakan haul dengan mengundang para muallim dan mubaligh untuk memperingati bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW " paparnya kepada Redaksi Katuara UIA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...