Pembayaran adalah sebuah masalah yang sangat vital, baik bagi mahasiswa maupun pihak kampus. Dari pembayaran inilah nantinya akan dialokasikan untuk pembangunan sarana dan prasarana kampus maupun anggaran untuk kemahasiswaan. Beberapa pekan ini, timbul polemik yang terjadi di kalangan mahasiswa, yakni perpindahan pembayaran via Bank. Seperti yang telah diketahui, untuk pembayaran administrasi kampus dilakukan via Bank Bukopin yang sudah ada di kampus, dengan Bank Muamalat. Tim Redaksi Katuara UIA mendapat waktu untuk mewawancara Kepala BAAK UIA, Dadun Abdul Kohar pada Selasa kemarin (9/10). Berikut adalah hasil dari wawancaranya.
Alasan perpindahan
bank?
Pertama,
kami harus sampaikan bahwa ini adalah permintaan dari beberapa dosen, yang
mengatakan bahwa kita ini kampus yang berlabel “Islam”. Kemudian kami juga
memahami fatwa MUI yang mengharamkan bunga atau riba itu sendiri. Jadi
kami coba mencari vendor yang mendukung, kemudian kami menemukan yang
sekarang (Bank Muamalat –red).
Ada alasan Lain?
Kami
juga sedang dalam tahap pembenahan sistem dan internal kami. Maksudnya, kami
ingin kedepan untuk urusan administrasi cukup dilakukan secara daring saja.
Untuk masalah pembayaran, pengisian FRS nantinya akan dilakukan secara daring.
Kalau bisa kita lihat, untuk staff BAAK sendiri hanya ada 4 orang, sedangkan
jumlah mahasiswa ada 3000an orang. Sedangkan pengisian FRS dan pembayaran masih
dilakukan secara manual. Pasti dalam kerja mereka ada error yang dibuat,
makanya terkadang data yang seharusnya sudah input namun ternyata belum
ter back up, sedangkan untuk mengumpulkan data ke kopertis juga ada deadline.
Kadang, ada saja mahasiswa yang tidak mengumpulkan FRS yang asli, sehingga kami
kebingungan untuk melakukan input data mereka.
Kami
ingin ada vendor yang memfasilitasi ini. Vendor yang lalu (Bank
Bukopin –red) tidak menyediakan itu. Bank Muamalat menyediakan sistem ini,
dengan nama “Smart Campus”.
Masalah error saat
pembayaran di Bank yang baru. Ada apa?
Ini
juga yang menjadi problem di vendor saat ini. Sistem pembayaran di UIA
yang berbeda dari kampus lain menyebabkan vendor kesulitan untuk
melakukan input. Misalnya, untuk jangka pembayaran angkatan 2018 dan
2017 itu dengan jumlah yang hampir sama. Sedangkan di angkatan 2016 ke atas itu
berbeda pola pembayaran dan juga total biayanya. Itu yang menjadi problem bagi vendor
saat ini. Nanti saat sudah diterapkan “Smart Campus”, insya Allah kesalahan
akan berkurang.
Apa yang dimaksud
dengan “Smart Campus”?
Ini
adalah sistem daring yang disediakan oleh Bank Muamalat. Sudah banyak
kampus yang di Jakarta yang menggunakan ini. Nantinya, sistem ini mencakup
pembayaran kuliah, absensi mahasiswa, kartu ujian, dan juga nilai dari
mahasiswa. Jadi mahasiswa nantinya tidak perlu repot antre di BAKU dan
BAAK untuk cek pembayaran, cukup print kartu ujian sendiri dan BAKU hanya
mengecap saja. Sistem ini lah yang nanti akan digunakan oleh mahasiswa UIA,
agar meminimalisir human error.
Untuk
masalah pembayaran, juga akan lebih tercatat lagi. Nantinya mahasiswa bisa
membayar lebih mudah dan pastinya, tidak lewat dari deadline yang telah
ditentukan.
Kapan akan disosialisasikan?
Rencana
kami akan sosialisasi di pertengahan semester ganjil ini. Untuk pelaksanaannya
akan dilakukan pada awal semester genap. Untuk input data pertama kami
akan melakukan mundur, yakni dari semester 1 karena mereka hanya mengisi FRS
saja. Untuk semester 3 ke atas nantinya akan dimasukkan rekap nilai juga. (Redaksi Katuara UIA)

Komentar
Posting Komentar