Langsung ke konten utama

Festival Teater Kampus Jakarta 2021 "Utas Karya, Utas Sejarah"


Reporter : Ahmad Daffa Baihaqi, Salsabila Rosada, Kamelia Alif Fajria 
Editor : Salsabila Rosada 

Pada Senin (7/6) Teater Camuss Universitas Islam As-Syafi'iyah menyelenggarakan pembukaan acara "Festival Teater Kampus Jakarta 2021" yang selanjutnya diikuti pelaksanaan acara tersebut. Pembukaan ini dihadiri oleh beberapa petinggi kampus yaitu Rektor UIA dan Wakil Rektor III serta adapula Ketua Komite Dewan Kesenian Jakarta dan peserta acara. 

Sayangnya acara penting yang dilaksanakan di Gedung Alawiyah lantai 8 Universitas Islam As-Syafi'iyah ini tidak dapat dihadiri secara langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan karena sedang berhalangan. Akan tetapi beliau tetap memberikan sambutan melalui cuplikan video. 

Muhammad Ifqy Dzikrullah Selaku Ketua Pelaksana mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi seluruh pihak yang terlibat dalam acara ini. Ia juga mengatakan bahwa acara yang bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta dan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta ini akan diselenggarakan di setiap tahunnya dengan panitia pelaksana yang berbeda dari lembaga teater yang ada di Universitas di Jakarta. 

"Festival Teater Kampus ini bertujuan untuk memperluas jaringan komunikasi antara komunitas teater kampus se-Jakarta, meningkatkan artistik grup dan manajemen pertunjukan serta manajemen penonton teater kampus se-Jakarta." tambahnya. 

Dari 48 Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Kampus yang ada di Jakarta, ada 11 teater yang ikut serta dan telah melakukan registrasi pada acara Festival Teater Kampus Jakarta 2021 ini.
Adapun acara ini terdiri dari lokakarya yang dibagi menjadi 3, yaitu : penyutradaraan, keaktoran dan manajemen pertunjukan. Kemudian akan ada pementasan di bulan Agustus—Oktober yang akan dilakukan seminggu sekali di hari Jum'at. 

Acara inipun mendapat apresiasi dari Rektor dan Wakil Rektor III. "Keberadaan teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa Teater ini menjadi penting dibeberapa kampus. Karena teater adalah bentuk yang bisa menggambarkan situasi masyarakat. Sesuatu hal yang tidak indah akan menjadi indah ketika kita memoles dan menyampaikan nya dengan seni panggung." ujarnya.

Semoga teman-teman teater kampus termotivasi dengan keikutsertaannya pada acara Festival Teater Kampus Jakarta ini. Meskipun pandemi Covid-19 belum usai, tidak menjadi halangan untuk melanjutkan kesenian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...