Langsung ke konten utama

Dialog Interaktif Katuara : Sosialisasi Seputar Jurnalisme Khalayak


LPM Katuara UIA mengadakan dialog interaktif dengan tema Citizen Journalism pada Rabu kemarin (10/7). Acara ini turut menghadirkan pembicara seperti Nadia Soekarno (NET TV), Sultan Takdir Ali (Radio Elshinta), dan Sujarwanto Rahmat (Wakil Ketua KPI). Dialog ini dimoderatori langsung oleh Pemimpin Redaksi Katuara, Ahmad Gufron.

Dialog ini dibuka oleh pengertian citizen journalism oleh Nadia. Ia menjelaskan, bahwa Citizen Journalism adalah kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh masyarakat umum. "Jadi, pelaku dari jurnalistik ini (citizen journalism -red) bukanlah dari media konvensional, tapi adalah kita selaku pengguna media sosial." paparnya.

Kemudian sejarah citizen journalism dipaparkan oleh Sultan. Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak luput dari peran masyarakat untuk menyebarkan berita proklamasi dari mulut ke mulut. "Dengan kondisi tekanan dari penjajah, petinggi negara harus berpikir keras untuk menyampaikan berita ini ke seluruh penjuru wilayah."

Selain itu, citizen journalism mempunyai 2 sisi dampak penggunaan. Merebaknya hoax dan disinformasi di media sosial menjadi PR bagi pemerintah. Dalam hal ini, Rahmat menjelaskan saat ini belum ada lembaga yang fokus mengawasi pola pemberitaan di media sosial. "Di RUU mendatang, KPI akan diberi wewenang dalam pengawasan penggunaan media sosial di Indonesia." tegasnya dalam forum. Ia juga mengajak seluruh audiens untuk menjadi pengguna media sosial yang bijak.

"Misalnya, bila ada berita yang sampai ke kita, perhatikan judul beritanya terlebih dahulu. Kalau judulnya bombastis, kita perlu curiga."

"Jadilah pengguna medsos yang bijak. Kalau ada berita, lihat isi berita dahulu. Kemudian verifikasi dengan media berita daring yang kredibel." lanjutnya.

Ahmad Fausih, selaku pembina Katuara mengapresiasi adanya acara ini. Menurutnya, bagi mahasiswa yang ingin menekuni bidang jurnalistik bisa memulainya dengan menjadi citizen journalist. "Sangat bagus. Kehadiran para pembicara yang rata-rata praktisi memberikan wawasan berbeda untuk mahasiswa yang biasanya hanya mendapatkan teorinya saja di perkuliahan." (Redaksi Katuara)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...