Langsung ke konten utama

Mediasi Antara BEM U Dengan Kampus

Pem : Ahmad Gufron
Reporter : FAIZ AKMAL

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah melakukan mediasi dengan kampus Rabu kemarin (3/4). Mediasi kemarin membahas beberapa peristiwa yang terjadi di kampus dan kuesioner yang dibuat BEM U seputar fasilitas kampus.

Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan, Syifa Fauziya, menanggapi kuesioner BEM U dan fenomena lift kampus yang macet dan kemudian viral di media sosial. “Saya juga melihat di instagram, bahwa ada kuesioner yang disebarkan oleh mahasiswa. Dari kuesioner yang masuk tentunya kita akan bicarakan kira-kira seperti apa proses perbaikannya, dan ke siapa harus ditindaklanjuti. Kemarin, setelah insiden lift, kita juga sudah bicarakan. Saya juga sudah bicarakan kepada pak Heri (Wakil Rektor 2 -red) mengenai hal tersebut. Sebenarnya ketika kalian liburan kemarin, itu ada lift yang sudah diganti komponennya."

Ia melanjutkan, hal ini akan dibicarakan dengan para pimpinan secepatnya. "Dan juga kita akan membicarakan hal ini, mungkin dalam bentuk mediasi juga di depan petinggi-petinggi kampus, seperti Rektor, atau Dekan-Dekan lainnya, kalau tidak hari kamis besok ya hari jum’atnya di ruangan rapat pimpinan”.

Presiden Mahasiswa BEM KBM UIA, Zulkarnain Kesuy, mengapresiasi respon yang baik dari pihak kampus. "Dalam hal ini Bu Syifa merespon baik terhadap kuesioner tersebut. Yang penting kita dari pihak BEM U sudah jalur yang benar dengan mengadakan pertemuan ini, artinya kita ngga mau turun ke jalan selama masih ada cara-cara baik lainnya seperti mediasi maupun silaturahim atau juuga tabayyun dulu."

Namun, BEM U juga sudah mengantisipasi apabila pihak kampus tidak menanggapi mediasi ini. "Saya juga belum bisa memutuskan hal tersebut karena saya tidak bisa otoriter dalam mengambil keputusan ini. Tapi nanti ketika 2 sampai 3 minggu tidak ada respon atau realisasi dalam perbaikan tersebut, pasti kami akan tindaklanjuti. Dan yang pasti kita akan mengadakan rapat internal terlebih dahulu bersama pihak BEM U, apakah dengan mediasi lagi atau cara yang lainnya.”

Mediasi ini dilaksanakan di kediaman pribadi Wakil Rektor 3.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...