Langsung ke konten utama

PMII UIA Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW




Pem : Ahmad Gufron
Reporter : Farhan Baihaqi, Fariz Amroe Syam

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Islam As-Syafi'iyah mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad pada Sabtu (12/01) di lantai 8 Gedung Alawiyah. Acara ini mengangkat tema "Generasi Milenial Tangguh Pengukir Masa Depan yang Berakhlakul Karimah dan Berwawasan Global".

Dalam acara ini, PMII UIA mengundang penceramah Ustadz Reza bin Muhammad Adzhomat Khan. Dalam ceramahnya, ia memaparkan bahwa masa muda adalah masa yang harus dipenuhi oleh kadar iman yang tinggi. "Karena di masa muda kita masih suka nengok kiri-kanan karena tergoda oleh dunia." Ia juga mengingatkan bahwa pentingnya generasi muda untuk bergaul dengan generasi tua. "Karena kesalahan pemuda sekarang hanya mendahulukan ilmu tidak di barengi dengan yang namanya pengalaman.
Padahal pengalaman itu penting, seringkali kita mendengar sebuah ungkapan bahwa pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup kita."

Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh Ketua PC PMII Jakarta Timur, Robiatul Adawiyah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan acara sebagai wujud melestarikan kegiatan yang diadakan Ulama' Nahdhiyin terdahulu. Ia juga berpesan untuk generasi muda agar terus melakukan kegiatan-kegiatan yang baru dan kreatif agar bisa terus berproses menjadi lebih baik. Turut hadir dalam acara ini Ikatan Keluarga Alumni PMII UIA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...