Langsung ke konten utama

Teater Camuss "Elliot : Tentang Emma dan Yang Lainnya"


Reporter : Salsabila Putri Ivani, Muhammad Syafiq Arrahman, Maolana Malik, Muhammad Aqsha, Ahmad Daffa Baihaqi 
Editor : Salsabila Rosada 

Dalam acara Festival Teater Kampus Jakarta 2022, Teater Cammus, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berada di Universitas Islam As-Syafi’iyah, menggelar sebuah pementasan teater dengan lakon Elliot : Tentang Emma dan Yang Lainnya di Gedung Alawiyah Universitas Islam As-Syafi'iyah pada hari Rabu, tanggal 21 September 2022. 

Elliot : Tentang Emma dan Yang Lainnya adalah sebuah karya dari seorang penulis drama yakni Dyah Ayu Setyorini, dan disutradarai oleh Idham Hidayatullah. Mengisahkan tentang Emma, seorang gadis yang hidup di Era Victorian dan mengidap penyakit kejiwaan skizofrenia. Pada era tersebut banyak dari kalangan masyarakat mengalami gangguan kejiwaan atau depresi, namun penanganan kesehatan mental sangat terbatas dan hanya masyarakat dari kalangan tertentu saja yang berhak ditangani kejiwaannya oleh dokter. 

Pemeran dari tokoh utama Emma adalah Sephia Amelia. Ia terpilih untuk memerankan Emma karena ia memiliki dasar pemahaman tentang kesehatan dan penyakit kejiwaan sewaktu sekolah menengah. 

"Gue mencoba untuk inget-inget waktu SMK melihat orang skizo kayak gimana. Dan setelah sekitar 3 minggu gue coba ingat-ingat lagi, ternyata yang pernah gue pegang itu pasien bipolar, bukan skizofrenia." Tuturnya. 

Persiapan para pemeran drama Elliot membutuhkan waktu 4 bulan lamanya. Para pemeran dituntut untuk dapat memahami setiap plot cerita, menghafal dialog antar tokoh lainnya dan menjiwai karakter tokoh yang diperankan. 

"Dalam mendalami sebuah karakter drama ini (Elliot), harus membutuhkan diksi yang kuat, kira-kira membutuhkan 2 minggu untuk memperkuat diksinya sih biar gak kagok gitu." ungkap Aura Eka Putri, pemeran tokoh Ibu. 

Properti yang digunakan di pentas drama Elliot menggunakan properti atau alat-alat yang dapat ditemukan dalam rumah tangga sehari-hari. Contohnya ranjang kasur, lemari, cermin rias, rak buku. 

Beberapa aktor yang ikut dalam pementasan ini diantaranya, Sephia Amelia sebagai Emma, Aura Eka Putri sebagai Ibu, Nesya Aulia Sabrina sebagai Mama, Mohammad Irham sebagai Kekasih, Ahmad Muhajir sebagai Dokter, Sabrina Wati sebagai Penyihir, Zahra Amalia Salim sebagai Penyihir, Wardah Tujjannah sebagai Penyihir, Cholahhudin Al Ayubi sebagai Penyihir, Muhammad Zaky Aimar sebagai Penyihir, Fauzan Adriya Maulana sebagai Penyihir, Amanda Ismail sebagai Elliot. 

Semoga dengan adanya pementasan ini, bisa menjadi sebuah motivasi dan improvisasi bagi para pemain teater untuk terus memaksimalkan potensi bakat dalam dunia pertunjukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...