Langsung ke konten utama

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati


Reporter: Muhamad Solihin
Editor: Salsabila Rosada

Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran.

Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial.

Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis di kalangan mahasiswa UIA.

MELACAK: Melapak Baca Kritis adalah program unggulan KASTRAT yang digelar rutin setiap Selasa sore di pelataran Rapat Pimpinan (Rapim). Dalam forum ini, selain membaca buku-buku yang telah disediakan, para anggota dan peserta mendiskusikan artikel-artikel yang mereka (KASTRAT -red) tulis sendiri. Setiap artikel yang terbit akan dibedah bersama, bukan untuk saling menghakimi, tetapi untuk memperluas perspektif.

Bagi KASTRAT, membaca bukan hanya aktivitas akademik, tetapi jalan menuju kesadaran. Dari membaca, muncul diskusi. Dari diskusi, lahir kesadaran. Dan dari kesadaran, lahirlah perubahan.

Dengan membawa visi "Dari rakyat untuk rakyat, dari mahasiswa untuk mahasiswa," KASTRAT ingin menjadi jembatan antara dunia kampus dan realitas sosial.

Dalam sesi wawancara, Bung Novan selaku pendiri KASTRAT menyampaikan pandangannya terkait pentingnya ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis.

"Kampus seharusnya memberikan wadah bagi mahasiswa yang berpikir kritis. Dan kalau wadah itu sudah ada, tolong disupport. Jangan dibiarkan mandek tanpa dukungan."

Ia juga menekankan perlunya mahasiswa untuk aktif menciptakan ruang diskusi yang sehat.

"Teman-teman mahasiswa juga harus mulai mencoba membentuk atau terlibat dalam diskusi-diskusi yang dialogis. Dari situ, pemikiran mereka bisa terpantik. Dan kalau sudah terpantik, biasanya semangat itu akan menyebar ke teman-teman yang lain," paparnya.

Senada dengan hal tersebut, Bung Ceper (red: pendiri KASTRAT) turut menambahkan pentingnya kebiasaan membaca sebagai fondasi berpikir kritis.

"Mahasiswa harus lebih sering membaca. Dengan membaca, mereka bisa lebih peka dan kritis terhadap permasalahan di kampus maupun isu-isu sosial yang lebih luas," jelasnya.

KASTRAT tak berhenti pada wacana. Mereka juga aktif menjalin kolaborasi, salah satunya dengan Perpustakaan Jalanan (PERPUSJAL)—komunitas literasi yang bergerak di ruang publik. Kolaborasi ini memperkuat posisi KASTRAT sebagai bagian dari gerakan literasi akar rumput.

Dalam kajian terbaru KASTRAT, mereka mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap menurunnya kepedulian dan partisipasi mahasiswa dalam isu-isu sosial maupun kehidupan kampus.

Salah satu faktor utama yang disoroti adalah pengaruh media sosial dan budaya instan. Mahasiswa kini cenderung lebih fokus pada pencapaian individu, seperti indeks prestasi kumulatif (IPK), dibandingkan membangun kesadaran kolektif. Informasi yang cepat dan serba instan turut membentuk pola pikir yang pragmatis, menggeser kepedulian terhadap isu-isu publik.

Selain itu, gaya hidup hedonis juga disebut sebagai penyebab melemahnya daya kritis. Kebiasaan seperti nongkrong berlebihan, bermain gim, hingga mencari hiburan semu dinilai menggerus waktu dan energi yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan atau terlibat dalam gerakan mahasiswa.

Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah model perkuliahan yang cenderung monologis. Dosen sering kali hanya menyampaikan teori tanpa membuka ruang dialog atau diskusi terbuka. Akibatnya, mahasiswa lebih sering menjadi penerima pasif, bukan peserta aktif dalam proses berpikir dan bertukar gagasan.

Menurut KASTRAT, sistem ini bisa diubah jika dosen dan mahasiswa sama-sama mau membangun ruang interaktif yang dialogis dan reflektif.

Hal ini menegaskan bahwa di tengah derasnya distraksi digital dan budaya instan, ruang-ruang diskusi seperti yang diupayakan KASTRAT bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk terus diperluas dan diperkuat. Karena KASTRAT bukan sekadar bergerak, tetapi menyalakan kembali api kesadaran di jantung kampus yang mulai redup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...