Langsung ke konten utama

4th Annual Food and Cultural Festival English Education FKIP UIA : Mengenal Lebih Dekat Budaya Lintas Negara


  • Miqdad Zeinnur Ahmad
  • Ahmad Gufron
  • Alifah Fauziah
Budaya memang primadona yang selalu hangat bila diperbincangkan setiap saat. Keunikan dan ciri khas yang dimiliki dari budaya di setiap daerah memang memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Lalu bagaimana dengan budaya mancanegara? Inilah yang coba diangkat oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UIA di Aula Lt. 8 Gedung Alawiyah pada Jum’at (27/7) kemarin. Sebuah kegiatan rutin tahunan dengan tema “4th Annual Food and Cultural Festival” yang dilaksanakan oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UIA dalam rangka memenuhi tugas akhir mata kuliah Class Cultural Understanding (CCU). Sesuai dengan tema, kegiatan ini mengusung konsep pameran budaya lintas negara lengkap dengan makanan-makanan khas dari masing-masing negara.
“Memang ini termasuk requirement mata kuliah CCU. Selain mereka presentasi dan mengikuti culture project, ini lah kegiatan terakhir yang harus dlaksanakan. Alhamdulillaah ini rutin kita lakukan. Sudah berjalan 4 tahun.” ujar Tryanti Abdulrahman, dosen mata kuliah CCU di FKIP UIA. “Untuk (mahasiswa Pendidikan) Bahasa Inggris, memang mereka juga harus belajar budaya. Karena pemahaman dan kemampuan belajar Bahasa Inggris itu akan berhasil jika didukung dengan pembelajaran budaya.” lanjut dosen yang akrab disapa dengan sebutan Mom Tya tersebut. Dalam acara tersebut, terdapat pentas budaya-budaya dari beberapa negara, seperti India, Timur Tengah, Eropa, Oriental, Jepang, Korea, dan juga tak ketinggalan, Indonesia. Tak hanya itu, ada open stand makanan-makanan dari masing-masing negara yang menawarkan menu-menu yang unik dan menarik.
Acara dimulai dengan penampilan dari grup vokal Timur Tengah yang serempak membuat ruangan terhenyak oleh suara mereka. Dilanjutkan dengan Tari Tradisional Indonesia dengan lagu Manuk Dadali, pentas budaya Origami ala Jepang, Tarian Damat Halayi ala Turki, Kabaret ala Western, hingga tarian India ala Film Bollywood yang membuat “pecah” suasana acara kala itu. Tak lupa, modern dance ala Girl Band Korea pun menjadi pamungkas di acara tersebut. Acara ditutup dengan penampilan dari seluruh mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dengan menyanyikan lagu “Perfect” nya Ed Sheeran bersama-sama.
“Seneng bisa ikut andil dalam acara.” papar Sofia, salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP yang merupakan salah satu panitia di acara tersebut. “Cuma tadi kurang maksimal pas tampil. Ada miss communication sama pihak operatornya, jadi kurang maksimal.” lanjutnya yang menampilkan tarian Folks ala Turki, “Damat Halayi”. Senada dengan Sofia, Syifa dan Rika pun mengungkapkan kesannya menjadi bagian dari acara. “Dengan adanya acara ini, menunjukkan bahwa mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris FKIP UIA bisa bersaing dengan kampus lainnya, bahkan dunia.” Papar Rika. “Acaranya bagus banget, tapi sayang kurang ter blow up.” ujar Syifa. Mereka juga mengapresiasi kampus yang mendukung terlaksananya kegiatan ini. “Semoga acara-acara serupa tetap dilestarikan di UIA. Untuk teman-teman mahasiswa semoga continue dalam melestarikan budaya negara dan dunia.” lanjut Sofia.
Semoga kedepannya semakin banyak upaya-upaya dari mahasiswa untuk melestarikan budaya, terutama budaya bangsa kita tercinta. (Ed: Gufron)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Apa Kabar, Jepang?" Nelangsa Lima Tahun Peserta LPK yang Tak Kunjung Datang

‎  Reporter : Salwa Alya Editorial : Reyhaanah, Salsabila Rosada Bagai menepuk air di dulang, sejumlah peserta program kerja ke Jepang Universitas Islam As-Syafiiyah (UIA) gelombang pertama 2020 menyampaikan rasa kecewanya terhadap ketidakjelasan dari tindak lanjut program tersebut. Program yang diikuti sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UIA saat pandemi COVID-19 melanda itu, tak kunjung terlihat ke mana kapal akan berlabuh. Berdasarkan sumber dari Katuara, program itu awalnya menjanjikan kesempatan kerja di Jepang melalui jalur kerja sama antara yayasan, perguruan tinggi, dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Sayangnya, salah satu peserta yang sudah mendaftar sejak 5 tahun lalu itu, tidak mendapatkan kepastian sampai saat ini. Padahal, Ia sudah mengikuti proses pendaftaran dan membayar biaya sebesar Rp15–16 juta untuk berbagai keperluan administrasi dan tes awal.  "Orang tua saya menyarankan untuk membatalkan saja karena sudah tidak ada kepastian. Al...

KASTRAT UIA: Pemantik Api yang Telah Lama Mati

Reporter: Muhamad Solihin Editor: Salsabila Rosada Di tengah dinamika kampus yang cenderung pasif, sekelompok mahasiswa muncul membawa keresahan. Mereka melihat bahwa mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah, secara umum, lebih sibuk mengejar kelulusan ketimbang memahami realitas sosial di sekelilingnya. Diskusi kritis nyaris tak terdengar. Peran organisasi kampus pun dinilai minim. Dalam situasi inilah KASTRAT UIA (Kajian Aksi dan Strategis UIA) lahir—bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan kesadaran. Dari keresahan, KASTRAT terbentuk sebagai respons terhadap minimnya ruang kritis di lingkungan kampus. Para pendirinya menyadari bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penikmat bangku kuliah dan pengumpul IPK. Mahasiswa adalah agen perubahan ( agent of change ) yang seharusnya hadir sebagai pemantik kesadaran sosial. Dengan semangat itu, mereka membentuk wadah diskusi, literasi, dan aksi yang bertujuan untuk menumbuhkan kembali budaya berpikir kritis ...

#Rubrik Perspektif Polemik LPK Jepang UIA : Kurangnya Keterbukaan Komunikasi yang Timbulkan Asumsi

Oleh : Tim Redaksi Katuara “5 tahun, sebuah proses yang tidak sebentar…” Setelah hampir 5 tahun berjalannya program kerja sama antara UIA dengan LPK DGII untuk keberangkatan ke Jepang, Ulul Azmi, salah satu peserta LPK Jepang UIA, akhirnya memberanikan diri mengungkapkan keluhannya ke publik. Pasalnya, Ia sudah mendaftarkan diri sejak 2020 lalu, namun hingga saat ini belum juga berhasil berangkat. Padahal, Ia sudah membayarkan uang sebanyak Rp20 juta dan sudah acap kali ikut berbagai pelatihan, baik yang diadakan LPK maupun di luar. "Sudah hampir 5 tahun sejak pendaftaran, tapi tidak ada kepastian. Kami sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp20 juta, namun tidak jelas digunakan untuk apa saja." Mahasiswa alumni Akademi Keperawatan 2017 ini menambahkan, bahwa dirinya rela untuk keluar dari pekerjaan demi mengikuti program LPK ini, dengan harapan dirinya bisa segera berangkat. Namun apa daya, nilai yang kurang menjadi salah satu kendala yang mengakibatkan dirinya masih ...